Di Balik Potret Metropolis Shanghai
Shanghai memang kota metropolis yang kental dengan perpaduan kultur barat dan timur. Bahkan, sebagian kalangan menganggap Shanghai sebagai wajah dari “Eropa”-nya Asia. Benarkah demikian? Berikut laporan Jurnalis Majalah Male Emporium (ME) yang sempat beberapa hari melanglang buana di Shanghai, China.
Oleh : Iwan Suci Jatmiko
Perjalanan ke Shanghai kali ini memang yang pertama. Saya harus menghabiskan waktu sekitar delapan jam perjalanan menuju Shanghai. Perjalanan saya ke Shanghai sekaligus memenuhi undangan peliputan dari Indonesia Inc. Racing Team (IIRT) di ajang Asian Formula Renault dan China Formula Campus.
Rombongan saya meninggalkan bandara Internasional Soekarno Hatta sekitar 22.20. Penerbangan kami tak langsung menuju Shanghai. Sekitar 2 jam penerbangan, kami harus transit di Bandara Internasional Changi, Singapura. Saya memiliki waktu sekitar satu jam untuk melepas lelah di bandara.
Rasa lelah saya lumayan terobati dengan pemandangan di Bandara Changi. Settingnya sangat modern dan nyaman. Fasilitas seperti toserba dan kafe-kafe menambah nilai plus bagi bandara ini. Belum lagi fasilitas internet gratis yang tersebar di beberapa titik bandara. Bahkan, disediakan pula tur gratis kunjungan obyek wisata di Singapura bagi para penumpang yang waktu transit mencapai enam jam. Setelah puas berkeliling di Bandara Changi, akhirnya saya pun harus meneruskan penerbangan menuju Shanghai.
Rasa bosan menyelimuti saya selama penerbangan. Maklum, perjalanan kali ini adalah penerbangan terlama yang pernah saya alami. Selama enam jam mata saya terbuka seakan enggan untuk terpejam. Akhirnya, setelah berjam-jam terbunuh bosan, kaki saya pun melangkah untuk yang pertama kalinya di Negeri China. Saya tiba di Shanghai Pudong International Airport (SPIA) sekitar pukul 07.20 waktu setempat (satu jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Bagian Barat-WIB).
Di SPIA telah menunggu penjemput kami bernama John. Mantan warga negara Indonesia yang telah menetap di China selama kurun waktu delapan tahun. Pria ramah bertubuh gempal ini langsung menyambut rombongan kami dan memberikan sedikit gambaran tentang Shanghai. Namun, alangkah kagetnya saya ketika mendengar harus berhati-hati dengan barang bawaan. Pasalnya, menurut John, banyak copet yang mampu menguntil barang bawaan di saat lengah. Sejak saat itu rombongan kami selalu berhati-hati dengan barang bawaan kami.
Setting SPIA memang tak sebagus Bandara Changi atau Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Namun, kebersihan SPIA patut diacungi jempol. Nuansa minimalis dan dominasi putih menyelimuti SPIA. Tak lama kemudian, bis yang mengantar kami tiba dan langsung melesat ke hotel Ying Yuan. Sebuah hotel yang letaknya di pinggiran Shanghai. Maklum, kami sengaja menginap di hotel tersebut agar dekat dengan lokasi sirkuit tempat putera-puteri bangsa berlaga.
Lama perjalanan dari airport ke kota jika menggunakan kendaraan memakan waktu 45 menit. Sedangkan jika digabungkan ke hotel tujuan kami dekat sirkuit ditambah 45 menit lagi. Total perjalanan kami sekitar 1,5 jam. Namun, menurut John, para pengunjung yang datang ke Shanghai bisa menumpang taksi menuju kota. Biaya tarifnya pun cukup unik. Jika anda naik taksi di pagi hari, tarifnya sekitar 130 Yuan. Sedangkan jika di malam hari bisa mencapai 200 Yuan.
Selain taksi, anda juga menumpang shuttle bus dengan tarif antara 12-20 yuan. Namun, anda juga bisa merasakan sensasi kereta cepat, Maglev dari bandara menuju kota. Kereta ini mampu melesat dengan kecepatan mencapai 430 km/jam. Alhasil, jarak waktu yang ditempuh dari bandara ke kota hanya sekitar 8 menit. Tarifnya hanya 40 Yuan jika anda menunjukkan tiket pesawat. Sedangkan bagi yang tidak memiliki tiket pesawat harus membayar 50 Yuan. Melihat kereta itu, saya jadi teringat KRL jabotabek yang jauh dari canggih. Sungguh...bagai langit dengan bumi...
Kendala Bahasa
Saya datang ke Shanghai pas di waktu musim panas. Suhunya saat itu mencapai 38 derajat Celcius. Terik matahari lebih menyengat ketimbang suhu di Jakarta. Saat tiba di hotel, betapa kagetnya saya ketika bahasa menjadi kendala utama dalam percakapan kami. Para pegawai hotel bintang empat itu tak semuanya lancar berbahasa Inggris. Bahkan, hanya bagian front desk saja yang bisa berbahasa Inggris, walau sedikit terbata-bata. Sisanya, sama sekali tidak menguasai bahasa Inggris sedikit pun.
Ternyata, menurut John, bangsa China memang tak mampu menguasai bahasa Inggris sehebat bangsa Indonesia. “Mungkin karena lidah mereka yang sulit untuk beradaptasi, sehingga mempelajari bahasa Inggris cukup sulit dan lambat,” kata John.
Setelah beberapa menit melepas lelah di hotel, saya langsung menuju ke restoran terdekat. Maklum, usus perut saya seakan berteriak menagih asupan makanan. Bagi anda kaum muslim disarankan berhati-hati dalam memilih makan di china, khususnya Shanghai. Pasalnya, dominasi daging babi hampir mencakup seluruh jenis makanan. Mulai, mie goreng, nasi goreng, risoles, sandwich, dan lain-lain.
Beruntung John peka dengan kehadiran kami yang mayoritas muslim. Kami pun diajak menyantap makanan di sebuah restoran muslim beberapa puluh meter dari hotel tempat kami menginap. Restoran itu memang jauh dari mewah, tapi setidaknya saya tidak perlu khawatir salah makan daging babi.
Saya memesan mie tarik seharga 7 Yuan dan daging sapi seharga 12 yuan. Harganya relatif murah, tapi proses pembuatannya cukup higienis dan unik. Mie tersebut dibuat di depan mata pengunjung mulai dari bentuk adonan hingga untaian mie yang ditarik di antara sela-sela jari. Rasanya pun lumayan dan tak asing bagi lidah saya. Yang membuat saya kaget adalah porsinya yang cukup raksasa. “Memang itu adalah porsi umum bagi kaum di sini,” kata John. Saya jadi bertanya dalam hati. Kenapa porsi makanan yang begitu banyak, namun bangsa China tetap memiliki perawakan kecil? Saya jadi tertawa dalam hati. Tapi sudahlah...hormon tiap manusia mungkin berbeda.
Setelah dua hari berkutat di hotel dan sirkuit Shanghai. Akhirnya ajang adu adrenalin itu pun berakhir dan kami memutuskan untuk pindah tempat menginap di pusat kota. Beruntung seluruh rombongan saya mendapatkan kamar di New Harbour Apartment yang terletak di daerah Jin Ling Lu Road. Tempat menginap yang lumayan bagus dan cukup sulit mendapatkan kamar di akhir pekan.
Metropolis dan sisi lain Shanghai
Setibanya di pusat kota Shanghai, saya tak langsung menyia-nyiakan waktu untuk menjelajah lika-liku kota. Memang potret pusat kota Shanghai begitu metropolis dan kental dengan pengaruh barat. Fasilitasnya pun cukup modern dan mengagumkan. Kilau lampu-lampu bangunan yang membanjiri langit seakan larut dan menyinari tiap langkah saya.
Uniknya, gedung-gedung di Shanghai rapat dengan jalan raya. Toko-toko di pinggir jalan mirip pecinan di bilangan Kota atau Glodok. Bangunannya pun menjulang tinggi mencakar langit seakan menunjukkan kota Shanghai merupakan kota yang paling metropolis modern di China.
Kendati demikian, lalu lintas di pusat kota seakan membawa saya kembali ke Jakarta. Saat saya tur di pusat kota, saya kembali terjebat macet akibat penuhnya populasi manusia dan kendaraan. Menurut John, jumlah populasi di Shanghai mencapai 20 juta orang. 13 juta di antaranya merupakan kaum pendatang.
Satu yang menarik adalah peraturan lalu lintas yang tak mengharuskan pengendara sepeda motor tidak mewajibkan penggunaan helm. Bahkan, jumlah sepeda mulai yang dikayuh hingga sepeda listrik seakan membanjiri kota. Di tiap sisi banyak dijumpai masyarakat yang melakukan aktivitasnya dengan sepeda. Bahkan, disediakan pula lahan khusus parkir sepeda dengan tiket dan khusus di titik tertentu. Mulai perkantoran, pasar tradisional hingga pasar swalayan.
Fenomena itu menggiring saya ke situasi crowded dan membuka mata saya terhadap kemolekan Shanghai. Ternyata, di balik sisi glamour kota Shanghai masih juga menyimpan cerita kota yang katanya metropolis ini. Banyak warga yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Di antara mereka banyak yang tinggal di kolong jembatan dan di pinggiran toko.
Menurut John, biaya hidup di Shanghai relatif tinggi. Harga rumah dan sewa tempat tinggal di Shanghai cukup mahal. Saking mahalnya tempat sewa, beberapa di antaranya ada yang rela menyewa tempat yang harganya murah namun tidak ada kamar mandinya. Sedangkan untuk mandi mereka harus membayar sebesar 3 Yuan. Alhasil, banyak dari mereka yang hanya mandi beberapa kali sehari atau bahkan mandi dengan air seadanya.
Saya sungguh terkejut ketika melihat seorang pria keluar dari sebuah tempat dengan membawa sebuah baskom namun hanya mengenakan celana dalam dan busa. Ternyata, pria tersebut mandi hanya dengan membasuh tubuhnya dengan air seadanya tanpa menggunakan sabun.
Sirna sudah asumsi saya tentang potret kota Shanghai yang begitu metropolis. Ada sedikit hal yang mengganjal di hati saya tentang peradaban China yang katanya maju itu. Warga di Shanghai seakan acuh terhadap lingkungan sekitar. Pasalnya, mereka meludah sembarangan. Tidak tanggung-tanggung, mereka meludah di dalam restoran, mall, bahkan di hadapan orang yang berada di dekatnya dengan menarik dalam-dalam dahak di tenggorokan mereka. Sungguh perilaku yang jorok.
Trik Menawar Saat Belanja
Selama empat hari di Shangai saya memang dibuat terkagum-kagum dengan kemajuan China dan inovasi dalam teknologinya. Mulai dari kendaraan dan pra sarana umum. Di samping sisi jorok yang mereka adaptasi, hampir setiap orang saya perhatikan menggunakan busana yang cenderung mengikuti trend perkembangan zaman. Memang pengaruh budaya barat lebih kental terasa di Shanghai. Indikasinya terlihat dari perilaku mereka yang bebas berciuman di muka umum. Mereka seakan tak peduli saat bermesraan kendati berada di lokasi terbuka.
Saya sempat mendatangi toko-toko di bilangan He’nan Road. Di tempat ini setting tokonya tak jauh beda dengan Glodok atau ITC Cempaka Mas atau sejenisnya. Toko-tokonya saling berhimpitan dan penuh sesak. Di tempat ini anda harus pandai menawar agar tidak kejeblos harga mahal. Apalagi jika sang pedagang tahu bahwa anda seorang turis.
Saya coba membeli sebuah sepatu kulit. Saya pun kaget dengan harga yang ditawarkan si pedagang, yaitu 700 Yuan. Gila...saya berkata sendiri dalam batin. Dengan memberanikan diri saya menawar sepatu itu seharga 100 Yuan. Si pedagang langsung berbahasa China dengan mimik yang menunjukkan bahwa tawaran saya terlalu rendah. Setelah proses tawar-menawar yang cukup alot, ternyata saya bisa membeli sepatu itu dengan harga 150 Yuan. Sungguh jauh di bawah harga yang ditawarkan sang pedagang awalnya.
Dari sinilah saya selalu beranggapan jangan menawar harga setengahnya, melainkan seperempat atau bahkan seperlima dari harga yang ditawarkan pedagang awalnya. Memang teori saya ini sifatnya untung-untungan. Tak jarang saya harus mengalami pengusiran dari si pedagang karena harga yang saya berikan terlalu murah.
Inilah bedanya pedagang di Shanghai, dengan pedagang Indonesia. Para pedagang di Shanghai tak segan-segan mengusir pelanggannya jika harga yang ditawarkan terlalu murah. Mereka tak sungkan berkata “No...no...you go a way!,” kata si pedagang dengan reaksi tangan yang mengibas-ibas pertanda anda diusir. Sungguh teknik berdagang yang tak sopan!
Nanjing Road merupakan area yang paling dikenal sebagai jalan utama sebagai tempat tujuan berbelanja. Di jalan ini banyak pusat-pusat perbelanjaan besar dan modern dengan plaza khusus bagi pejalan kaki. Namun, kenyamanan saya saat itu sungguh terganggu dengan para calon yang menawarkan barang-barang black market. Mereka menawarkan produk-produk tersebut dengan bermodalkan brosur dan foto-foto.
Teknik mereka pun sungguh menjengkelkan. Seems they don’t accept no for an answer! Lepas dari calo satu, calo yang lain pun kerap menghampiri saya. Mereka tak segan mengikuti saya dengan menjelaskan produk yang mereka tawarkan dengan bahasa China, hingga puluhan meter. Kesal dengan perilaku mereka, akhirnya saya bersikap acuh dan tak menanggapi ocehan mereka.
Menariknya adalah ketika saya mengunjungi Hen-Shang Road. Di tempat ini seakan memori saya kembali ke kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Di tiap sisi jalan ini banyak terdapat bar, tempat karaoke, lounge, tea house, restoran, dan diskotik. Di sini saya tak lagi melihat orang meludah sembarangan atau calo-calo menjengkelkan. Maklum, rata-rata pengunjung di area itu merupakan turis asing.
Para calo barang dan pengemis memang tak berani menunjukkan batang hidungnya. Pasalnya, menurut John, para calo atau pengemis sangat takut terhadap aparat penegak hukum. Benar saja, petugas keamanan memang disiagakan mulai dari patroli motor, hingga yang menggunakan sepeda. Toko-toko di sepanjang jalan ini ditata rapi dan unik. Selintas, mirip jalan-jalan di kota kecil Eropa, namun lebih modern. Bangunan modern lain yang menjadi kebanggan Shangai adalah menara TV Shanghai yang tingginya mencapai hampir 500 meter. Di tempat ini kita bisa memandang horizon Shanghai secara keseluruhan.Ada awal dan ada akhir. Selama empat hari saya berkutat di Shangai, akhirnya saya harus kembali ke Tanah Air. Beruntung saya mendapat penerbangan pagi. Artinya saya tiba di Bandara Soekarno Hatta sore hari. Shanghai memang menawarkan potret kota yang metropolis dan modern. Namun, potret buram kehidupan warganya masih menjadi warna tersendiri. Sama halnya dengan Jakarta, di antara gedung-gedung yang menjlang tinggi, masih terdapat kawasan kumuh di sekitarnya. Selamat tinggal Shanghai...
Showing posts with label Male Emporium Magazine. Show all posts
Showing posts with label Male Emporium Magazine. Show all posts
Thursday, October 19, 2006
Malaysia, Pesona Asia Berjuta Keindahan
Malaysia
Pesona Asia Berjuta Keindahan
Truly Asia. Tampaknya slogan ini begitu ampuh bagi pemerintah Negeri Jiran, Malaysia, untuk menarik wisatawan asing berkunjung. Kampanye pemerintah Malaysia untuk mempromosikan negaranya memang patut diacungi jempol.
Oleh: Iwan Suci Jatmiko
Pemerintah Malaysia memang memberikan perhatian penuh terhadap devisa yang diperoleh dari tamu asing yang tandang ke negaranya. Slogan yang mengadaptasi wajah Asia ada di Malaysia itu berusaha diwujudkan dengan pembangunan total di segala bidang pariwisata. Berbagai proyek raksasa pun dibentuk, bahkan kala itu pemerintahan Mahatir begitu terbuka untuk melibatkan pihak swasta terlibat dalam pembangunannya.
Hasilnya pun sangat mengagumkan. Malaysia menjelma menjadi sebuah negara yang modern dan futuristik. Ketika anda melakukan perjalanan ke Negeri Jiran, anda sudah disambut dengan glamour-nya Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Fasilitas dan setting bandara begitu canggih dan mewah. Selain modern, bangunan bandara yang sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca dan baja putih memperhatikan pula unsur lingkungan hidup. Decak kagum pengunjung tak berhenti sampai di situ. Setelah keluar dari pesawat, para penumpang pesawat harus berjalan menyusuri bandara guna mengambil bagasi dan imigrasi.
Anda harus menaiki kereta khusus guna sampai di tempat pengambilan bagasi dan imigrasi. Kereta yang digunakan pun cukup modern dan nyaman. Bagi anda yang pertama kali datang ke Malaysia jangan ragu untuk bertanya. Pasalnya, besar kemungkinan anda tersesat. Sebaiknya anda tetap mengikuti rombongan penumpang yang satu pesawat dengan anda.
KLIA memang terletak agak jauh dari pusat kota. Kendati demikian, ada beberapa alternatif transportasi guna mencapai tujuan dengan biaya relatif terjangkau. Jika anda datang sendiri dengan barang bawaan yang tidak cukup banyak, anda bisa menumpang kereta KLIA Express Line yang menghubungkan KLIA dengan KL Central station. Perjalanannya pun cukup singkat, sekitar 30 menit.
Saat itu tim Majalah Male Emporium (ME) datang bertiga dengan barang bawaan yang cukup banyak. Akhirnya kami memutuskan menumpang taksi menuju Kuala Lumpur. Kami memilih taksi yang biasa disebut limo, yaitu Mercedes yang dijadikan taksi. Sistem pembayarannya cukup komperehensif. Penumpang diharuskan membayar di sebuah counter khusus taksi, tarifnya pun relatif dan dihitung per orang serta banyaknya bawaan. Saat itu, kami membayar 110 RM dengan tujuan pusat kota Kuala Lumpur. Jika anda menggunakan taksi, lama perjalanan sekitar 1 jam.
Jika anda memutuskan untuk menumpang kereta, pemandangan dahsyat pun menunggu anda setelah kaki anda melangkah masuk ke stasiun KL Central. Bangunannya begitu megah nan indah. Jangan mempermalukan diri anda dengan membuang sampah sembarangan. Pasalnya, seluruh area stasiun begitu bersih dan tertata rapi mirip gedung pertemuan. Sejenak pikiran kita pasti teringat dengan pemandangan stasiun kereta di tanah air yang sungguh bertolak belakang.
Tak satupun coretan, bercak oli, atau sampah yang tergeletak di sekitar stasiun KL Central. Berbeda dengan suasana stasiun di tanah air yang dihiasi dengan tukang asongan, pengemis, dan pengamen. Stasiun KL Central memang sangat nyaman. Di sekitarnya terdapat banyak pertokoan. Alhasil, KL Central tak jauh beda dengan mal. Restoran dengan berbagai cita rasa tersebar di sekitar stasiun. Banyak juga toko-toko yang menjual pakaian dan buah tangan khas Malaysia.
Fasilitas bank dan money changer pun makin memberikan kemudahan bagi pengunjung yang datang. Jangan takut untuk berbelanja atau menukar uang di Money Changer KL Central. Pasalnya, harga barang atau nilai mata uang sama dengan harga jika anda berbelanja di luar KL Central. Tak bisa disalahkan memang jika anda trauma dengan harga barang di bandara atau stasiun di Tanah Air yang melangit. Berbeda jika anda membelinya di luar bandara atau stasiun di Tanah Air. Tentu harganya pun akan jauh lebih murah. Fenomena ini sungguh bertolak belakang di KL Central. Anda pun bisa langsung memesan tiket pesawat di counter khusus Malaysia Air. One Stop Service, mungkin prinsip inilah yang coba diadaptasi oleh KL Central.
Kota yang Teratur
Kenyamanan kota Kuala Lumpur memang patut diacungi jempol. Sistem transportasinya lumayan teratur dan aman. Selama anda tinggal di kuala Lumpur, anda harus mencoba memanfaatkan fasilitas transportasi monorail. Pasalnya, rute yang ditempuh monorail hampir mencakup seluruh obyek wisata dan pusat perbelanjaan. Tampaknya Malaysia menaruh perhatian khusus terhadap arus lalu lintas di pusat kota. Pemerintah Malaysia membangun beberapa sistem jaringan kereta api. Mulai dari sekedar mengelilingi kota hingga antar kota.
Kami sempat mencoba menaiki monorail, tarifnya pun relatif murah. Kereta yang terdiri hanya dua gerbong ini begitu nyaman. Jangan ragu untuk menaiki kereta ini kendati waktu telah larut. Buktinya, saat itu kami menuju ke KL Sentral guna mengambil pesanan tiket pesawat. Memang stasiun monorail saat itu relatif sepi, namun perasaan was-was sirna di benak kami.
Ternyata perasaan itu tak hanya hinggap di benak kami. Banyak juga turis lain khususnya wanita yang beranggapan sama. Di antara mereka bahkan ada yang mengenakan pakaian lumayan seksi dan berjalan sendirian di pinggiran trotoar tanpa rasa takut. Sebagian lagi duduk santai di tempat jajanan menikmati indahnya malam.
Bagi anda kaum perokok siap-siap saja salah tingkah jika ingin merokok di area bebas. Pasalnya, jarang sekali ditemui orang yang merokok. Padahal, beberapa asbak dengan desain unik telah disediakan di pinggiran trotoar atau tempat-tempat tertentu. Saya sempat bertanya kepada warga sekitar. Apakah di KL tidak diperbolehkan merokok di depan umum? Jawabannya pun singkat “Tidak benar, anda boleh saja merokok”. Namun, saat itu saya berdiri di depan hotel dengan asbak di samping saya. Tapi, tak satu pun pengunjung atau orang yang berada di sekitar saya yang merokok. Tampaknya, kesadaran masyarakat Malaysia dengan kesehatan cukup tinggi.
Kuala Lumpur Twin Tower (lebih dikenal dengan sebutan Menara Petronas-Red) merupakan salah satu tujuan menarik bagi kaum wisatawan. Gedung kembar yang digunakan sebagai perkantoran ini direncanakan oleh arsitek Cesar Peli & Associates. Kemegahannya pun hasil sentuhan tangan kontraktor dari Korea dan Jepang. Akhirnya, setelah salah satu menara rampung, perusahaan minyak raksasa Malaysia, Petronas membeli menara itu. Dari situlah sebutan Menara Petronas mulai terbentuk. Menara satunya disewakan untuk perkantoran. Terdapat pula jembatan penghubung antara kedua menara kembar itu.
Ikon kebanggaan bangsa Malaysia ini memang sebuah dimensi fenomenal bagi kedua bola mata kami. Gedung itu berdiri angkuh seakan mencakar langit dan menunjukkan keperkasaannya. Menara ini juga dilengkapi dengan lift yang berkecepatan tinggi untuk mengantarkan anda ke puncak menara. Dari situlah horizon Malaysia terbentang luas. Sungguh mengagumkan!
Menara kembar yang memiliki 88 lantai ini memang sensasi tersendiri. Kemegahannya yang berdiri di pusat kota memberikan kesan glamour dan mencerminkan stigma modern terhadap bangsanya. Perpaduan baja dan kaca yang menghiasi KL Twin Tower mengeluarkan kilauan indah kala siang hari. Bahkan di malam hari pun Menara Kembar ini tetap berkilau. Sinar dari lampu sorot yang menghujani bangunan fenomenal itu seakan larut di antara gemerlapnya bintang di langit.
Pusat Perbelanjaan
Belanja memang salah satu aktivitas yang paling umum dilakukan bagi para turis. Sejenak mata kami terkagum-kagum dengan kemegahan KL Twin Tower, namun untuk melepas lelah dan meluapkan hasrat belanja, kami langsung mengunjungi KLCC. Tempat ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan Malaysia yang cukup modern. Letaknya pun cukup strategis, tepat di bawah KL Twin Tower. Sungguh perhitungan bisnis yang jeli.
Ada beberapa alternatif pilihan bagi anda untuk berbelanja. Bagi anda yang gemar belanja, daerah bukit bintang merupakan salah satu kawasan "segitiga emas"nya KL. Banyak sekali shopping center diantara gedung-gedung tinggi yang bisa membuat kaki anda lemas. Sebut saja nama-nama tempat belanja populer seperti Bukit Bintang Plaza, Sungei Wang Plaza, Berjaya Times Square, dan lain-lain.
Seperti pusat perbelanjaan pada umumnya, hampir semua merek produk terkenal tersedia di masing-masing pertokoan. Harganya pun masih di bawah harga pasaran di mal-mal Jakarta. Kami pun heran setelah mengetahui harga-harga miring yang ditawarkan toko atau stand yang terdapat di mall-mall itu. Kami juga mengunjungi China Town-nya Malaysia yang terletak di Jalan Petaling (Petaling Street). Di Jalan Petaling, anda bisa mendapatkan buah tangan termasuk produk-produk seperti pakaian, sepatu, jam, aneka makanan, bahan kain, dan lain-lain. Di area ini hampir semua pedagang merupakan warga keturunan Tiong Hoa.
Jangan terlalu bernafsu untuk membeli barang di Jalan petaling. Pasalnya, harga di tempat ini sulit ditebak. Jika anda jeli, anda pasti menemukan harga yang lebih murah dengan barang yang sama di toko yang berbeda. Jangan ragu untuk menawar barang anda beli.
Kedatangan Tim ME ke Malaysia bukan sekedar jalan-jalan. Melancong ke Negeri Jiran ini adalah satu implementasi program ME Goes To Asia. Malaysia adalah negara pertama yang respon pasarnya cukup menjanjikan. Selain melakukan riset pasar dan karakter media kompetitor, ME juga mempelajari peta peredaran atau sirkulasi media di Malaysia.
ME pun berencana akan menjalin kerjasama dengan salah satu percetakan terbesar di Malaysia guna mempermulus program ME Goes To Asia. Selain Malaysia, program jangka panjang ME juga membidik pasar negara-negara yang tersebar di Asia. Bahkan, rencananya pasar Australia pun tak luput dari bidikan ME. “Kita berkeinginan untuk menjadi majalah lokal pertama yang bisa franchise. Dominasi majalah asing pun bisa masuk ke pasar Indonesia, kita pun harus bisa melakukan itu keluar,” kata Cynthia Limanouw Marketing Director Majalah ME.
Indahnya Genting Highland
Bosan dengan suasana kota? Sepertinya suasana pegunungan yang sejuk adalah jawabannya. Tak lengkap jika anda berkunjung ke Malaysia kalau belum singgah di Genting Highland. Perjalanan menuju Genting Highland hanya memakan waktu sekitar satu jam dari pusat kota. Konsep City Of Entertainment memang bukan sekedar slogan yang diterapkan pengelola Genting Highland. Banyak sekali sajian aneka hiburan mulai yang ringan hingga permainan pemacu adrenalin di indoor ataupun out door yang tersebar di sana.
Keindahan Genting ditambah dengan sarana kereta gantung yang membentang di angkasa. Kereta gantung di Genting ini menyandang predikat sebagai kereta gantung yang tercepat dan terpanjang di Asia Tenggara.
Kini Genting memiliki fasilitas lengkap. Bahkan, kendati karakter Malaysia cukup religius, namun kebijakannya cukup fleksibel. Buktinya, beberapa kasino tersebar di Genting. Ada beberapa pilihan kasino di Genting, di antaranya Circus Palace, Hollywood, Monte Carlo 1, dan Monte Carlo 2. Bahkan, kasino yang terdapat di area ini pun memiliki lisensi alias keberadaannya diakui oleh negara dan legal.
Tak sulit untuk memasuki kasino di Genting. Cukup menunjukkan passport dan tidak membawa senjata berbahaya, anda langsung bisa menapakkan kaki ke dalam kasino. Keamanannya pun terjamin. Petugas keamanan tersebar di seluruh penjuru guna memaksimalkan kenyamanan para tamu. “Tapi kasino bukanlah sumber pemasukan utama, itu merupakan bagian dari fasilitas hotel karena kita ingin menciptakan hiburan mulai dari anak hingga dewasa. Kasino adalah bagian dari hiburan bagi kaum dewasa,” kata Zainal Ashikin Asistant Vice President Resort World Bhd (Incorporated in Malaysia under Company No.58019-U). Kini, Genting Highland menjelma sebagai salah satu kebanggaan bangsa Malaysia. Turis asing yang datang ke Genting dianggap mampu mendongkrak dan memberikan devisa yang signifikan terhadap sektor pariwisata Malaysia. Seperti layaknya Bali, Genting Highland merupakan tujuan wajib jika anda berada di Malaysia.
Pesona Asia Berjuta Keindahan
Truly Asia. Tampaknya slogan ini begitu ampuh bagi pemerintah Negeri Jiran, Malaysia, untuk menarik wisatawan asing berkunjung. Kampanye pemerintah Malaysia untuk mempromosikan negaranya memang patut diacungi jempol.
Oleh: Iwan Suci Jatmiko
Pemerintah Malaysia memang memberikan perhatian penuh terhadap devisa yang diperoleh dari tamu asing yang tandang ke negaranya. Slogan yang mengadaptasi wajah Asia ada di Malaysia itu berusaha diwujudkan dengan pembangunan total di segala bidang pariwisata. Berbagai proyek raksasa pun dibentuk, bahkan kala itu pemerintahan Mahatir begitu terbuka untuk melibatkan pihak swasta terlibat dalam pembangunannya.
Hasilnya pun sangat mengagumkan. Malaysia menjelma menjadi sebuah negara yang modern dan futuristik. Ketika anda melakukan perjalanan ke Negeri Jiran, anda sudah disambut dengan glamour-nya Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Fasilitas dan setting bandara begitu canggih dan mewah. Selain modern, bangunan bandara yang sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca dan baja putih memperhatikan pula unsur lingkungan hidup. Decak kagum pengunjung tak berhenti sampai di situ. Setelah keluar dari pesawat, para penumpang pesawat harus berjalan menyusuri bandara guna mengambil bagasi dan imigrasi.
Anda harus menaiki kereta khusus guna sampai di tempat pengambilan bagasi dan imigrasi. Kereta yang digunakan pun cukup modern dan nyaman. Bagi anda yang pertama kali datang ke Malaysia jangan ragu untuk bertanya. Pasalnya, besar kemungkinan anda tersesat. Sebaiknya anda tetap mengikuti rombongan penumpang yang satu pesawat dengan anda.
KLIA memang terletak agak jauh dari pusat kota. Kendati demikian, ada beberapa alternatif transportasi guna mencapai tujuan dengan biaya relatif terjangkau. Jika anda datang sendiri dengan barang bawaan yang tidak cukup banyak, anda bisa menumpang kereta KLIA Express Line yang menghubungkan KLIA dengan KL Central station. Perjalanannya pun cukup singkat, sekitar 30 menit.
Saat itu tim Majalah Male Emporium (ME) datang bertiga dengan barang bawaan yang cukup banyak. Akhirnya kami memutuskan menumpang taksi menuju Kuala Lumpur. Kami memilih taksi yang biasa disebut limo, yaitu Mercedes yang dijadikan taksi. Sistem pembayarannya cukup komperehensif. Penumpang diharuskan membayar di sebuah counter khusus taksi, tarifnya pun relatif dan dihitung per orang serta banyaknya bawaan. Saat itu, kami membayar 110 RM dengan tujuan pusat kota Kuala Lumpur. Jika anda menggunakan taksi, lama perjalanan sekitar 1 jam.
Jika anda memutuskan untuk menumpang kereta, pemandangan dahsyat pun menunggu anda setelah kaki anda melangkah masuk ke stasiun KL Central. Bangunannya begitu megah nan indah. Jangan mempermalukan diri anda dengan membuang sampah sembarangan. Pasalnya, seluruh area stasiun begitu bersih dan tertata rapi mirip gedung pertemuan. Sejenak pikiran kita pasti teringat dengan pemandangan stasiun kereta di tanah air yang sungguh bertolak belakang.
Tak satupun coretan, bercak oli, atau sampah yang tergeletak di sekitar stasiun KL Central. Berbeda dengan suasana stasiun di tanah air yang dihiasi dengan tukang asongan, pengemis, dan pengamen. Stasiun KL Central memang sangat nyaman. Di sekitarnya terdapat banyak pertokoan. Alhasil, KL Central tak jauh beda dengan mal. Restoran dengan berbagai cita rasa tersebar di sekitar stasiun. Banyak juga toko-toko yang menjual pakaian dan buah tangan khas Malaysia.
Fasilitas bank dan money changer pun makin memberikan kemudahan bagi pengunjung yang datang. Jangan takut untuk berbelanja atau menukar uang di Money Changer KL Central. Pasalnya, harga barang atau nilai mata uang sama dengan harga jika anda berbelanja di luar KL Central. Tak bisa disalahkan memang jika anda trauma dengan harga barang di bandara atau stasiun di Tanah Air yang melangit. Berbeda jika anda membelinya di luar bandara atau stasiun di Tanah Air. Tentu harganya pun akan jauh lebih murah. Fenomena ini sungguh bertolak belakang di KL Central. Anda pun bisa langsung memesan tiket pesawat di counter khusus Malaysia Air. One Stop Service, mungkin prinsip inilah yang coba diadaptasi oleh KL Central.
Kota yang Teratur
Kenyamanan kota Kuala Lumpur memang patut diacungi jempol. Sistem transportasinya lumayan teratur dan aman. Selama anda tinggal di kuala Lumpur, anda harus mencoba memanfaatkan fasilitas transportasi monorail. Pasalnya, rute yang ditempuh monorail hampir mencakup seluruh obyek wisata dan pusat perbelanjaan. Tampaknya Malaysia menaruh perhatian khusus terhadap arus lalu lintas di pusat kota. Pemerintah Malaysia membangun beberapa sistem jaringan kereta api. Mulai dari sekedar mengelilingi kota hingga antar kota.
Kami sempat mencoba menaiki monorail, tarifnya pun relatif murah. Kereta yang terdiri hanya dua gerbong ini begitu nyaman. Jangan ragu untuk menaiki kereta ini kendati waktu telah larut. Buktinya, saat itu kami menuju ke KL Sentral guna mengambil pesanan tiket pesawat. Memang stasiun monorail saat itu relatif sepi, namun perasaan was-was sirna di benak kami.
Ternyata perasaan itu tak hanya hinggap di benak kami. Banyak juga turis lain khususnya wanita yang beranggapan sama. Di antara mereka bahkan ada yang mengenakan pakaian lumayan seksi dan berjalan sendirian di pinggiran trotoar tanpa rasa takut. Sebagian lagi duduk santai di tempat jajanan menikmati indahnya malam.
Bagi anda kaum perokok siap-siap saja salah tingkah jika ingin merokok di area bebas. Pasalnya, jarang sekali ditemui orang yang merokok. Padahal, beberapa asbak dengan desain unik telah disediakan di pinggiran trotoar atau tempat-tempat tertentu. Saya sempat bertanya kepada warga sekitar. Apakah di KL tidak diperbolehkan merokok di depan umum? Jawabannya pun singkat “Tidak benar, anda boleh saja merokok”. Namun, saat itu saya berdiri di depan hotel dengan asbak di samping saya. Tapi, tak satu pun pengunjung atau orang yang berada di sekitar saya yang merokok. Tampaknya, kesadaran masyarakat Malaysia dengan kesehatan cukup tinggi.
Kuala Lumpur Twin Tower (lebih dikenal dengan sebutan Menara Petronas-Red) merupakan salah satu tujuan menarik bagi kaum wisatawan. Gedung kembar yang digunakan sebagai perkantoran ini direncanakan oleh arsitek Cesar Peli & Associates. Kemegahannya pun hasil sentuhan tangan kontraktor dari Korea dan Jepang. Akhirnya, setelah salah satu menara rampung, perusahaan minyak raksasa Malaysia, Petronas membeli menara itu. Dari situlah sebutan Menara Petronas mulai terbentuk. Menara satunya disewakan untuk perkantoran. Terdapat pula jembatan penghubung antara kedua menara kembar itu.
Ikon kebanggaan bangsa Malaysia ini memang sebuah dimensi fenomenal bagi kedua bola mata kami. Gedung itu berdiri angkuh seakan mencakar langit dan menunjukkan keperkasaannya. Menara ini juga dilengkapi dengan lift yang berkecepatan tinggi untuk mengantarkan anda ke puncak menara. Dari situlah horizon Malaysia terbentang luas. Sungguh mengagumkan!
Menara kembar yang memiliki 88 lantai ini memang sensasi tersendiri. Kemegahannya yang berdiri di pusat kota memberikan kesan glamour dan mencerminkan stigma modern terhadap bangsanya. Perpaduan baja dan kaca yang menghiasi KL Twin Tower mengeluarkan kilauan indah kala siang hari. Bahkan di malam hari pun Menara Kembar ini tetap berkilau. Sinar dari lampu sorot yang menghujani bangunan fenomenal itu seakan larut di antara gemerlapnya bintang di langit.
Pusat Perbelanjaan
Belanja memang salah satu aktivitas yang paling umum dilakukan bagi para turis. Sejenak mata kami terkagum-kagum dengan kemegahan KL Twin Tower, namun untuk melepas lelah dan meluapkan hasrat belanja, kami langsung mengunjungi KLCC. Tempat ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan Malaysia yang cukup modern. Letaknya pun cukup strategis, tepat di bawah KL Twin Tower. Sungguh perhitungan bisnis yang jeli.
Ada beberapa alternatif pilihan bagi anda untuk berbelanja. Bagi anda yang gemar belanja, daerah bukit bintang merupakan salah satu kawasan "segitiga emas"nya KL. Banyak sekali shopping center diantara gedung-gedung tinggi yang bisa membuat kaki anda lemas. Sebut saja nama-nama tempat belanja populer seperti Bukit Bintang Plaza, Sungei Wang Plaza, Berjaya Times Square, dan lain-lain.
Seperti pusat perbelanjaan pada umumnya, hampir semua merek produk terkenal tersedia di masing-masing pertokoan. Harganya pun masih di bawah harga pasaran di mal-mal Jakarta. Kami pun heran setelah mengetahui harga-harga miring yang ditawarkan toko atau stand yang terdapat di mall-mall itu. Kami juga mengunjungi China Town-nya Malaysia yang terletak di Jalan Petaling (Petaling Street). Di Jalan Petaling, anda bisa mendapatkan buah tangan termasuk produk-produk seperti pakaian, sepatu, jam, aneka makanan, bahan kain, dan lain-lain. Di area ini hampir semua pedagang merupakan warga keturunan Tiong Hoa.
Jangan terlalu bernafsu untuk membeli barang di Jalan petaling. Pasalnya, harga di tempat ini sulit ditebak. Jika anda jeli, anda pasti menemukan harga yang lebih murah dengan barang yang sama di toko yang berbeda. Jangan ragu untuk menawar barang anda beli.
Kedatangan Tim ME ke Malaysia bukan sekedar jalan-jalan. Melancong ke Negeri Jiran ini adalah satu implementasi program ME Goes To Asia. Malaysia adalah negara pertama yang respon pasarnya cukup menjanjikan. Selain melakukan riset pasar dan karakter media kompetitor, ME juga mempelajari peta peredaran atau sirkulasi media di Malaysia.
ME pun berencana akan menjalin kerjasama dengan salah satu percetakan terbesar di Malaysia guna mempermulus program ME Goes To Asia. Selain Malaysia, program jangka panjang ME juga membidik pasar negara-negara yang tersebar di Asia. Bahkan, rencananya pasar Australia pun tak luput dari bidikan ME. “Kita berkeinginan untuk menjadi majalah lokal pertama yang bisa franchise. Dominasi majalah asing pun bisa masuk ke pasar Indonesia, kita pun harus bisa melakukan itu keluar,” kata Cynthia Limanouw Marketing Director Majalah ME.
Indahnya Genting Highland
Bosan dengan suasana kota? Sepertinya suasana pegunungan yang sejuk adalah jawabannya. Tak lengkap jika anda berkunjung ke Malaysia kalau belum singgah di Genting Highland. Perjalanan menuju Genting Highland hanya memakan waktu sekitar satu jam dari pusat kota. Konsep City Of Entertainment memang bukan sekedar slogan yang diterapkan pengelola Genting Highland. Banyak sekali sajian aneka hiburan mulai yang ringan hingga permainan pemacu adrenalin di indoor ataupun out door yang tersebar di sana.
Keindahan Genting ditambah dengan sarana kereta gantung yang membentang di angkasa. Kereta gantung di Genting ini menyandang predikat sebagai kereta gantung yang tercepat dan terpanjang di Asia Tenggara.
Kini Genting memiliki fasilitas lengkap. Bahkan, kendati karakter Malaysia cukup religius, namun kebijakannya cukup fleksibel. Buktinya, beberapa kasino tersebar di Genting. Ada beberapa pilihan kasino di Genting, di antaranya Circus Palace, Hollywood, Monte Carlo 1, dan Monte Carlo 2. Bahkan, kasino yang terdapat di area ini pun memiliki lisensi alias keberadaannya diakui oleh negara dan legal.
Tak sulit untuk memasuki kasino di Genting. Cukup menunjukkan passport dan tidak membawa senjata berbahaya, anda langsung bisa menapakkan kaki ke dalam kasino. Keamanannya pun terjamin. Petugas keamanan tersebar di seluruh penjuru guna memaksimalkan kenyamanan para tamu. “Tapi kasino bukanlah sumber pemasukan utama, itu merupakan bagian dari fasilitas hotel karena kita ingin menciptakan hiburan mulai dari anak hingga dewasa. Kasino adalah bagian dari hiburan bagi kaum dewasa,” kata Zainal Ashikin Asistant Vice President Resort World Bhd (Incorporated in Malaysia under Company No.58019-U). Kini, Genting Highland menjelma sebagai salah satu kebanggaan bangsa Malaysia. Turis asing yang datang ke Genting dianggap mampu mendongkrak dan memberikan devisa yang signifikan terhadap sektor pariwisata Malaysia. Seperti layaknya Bali, Genting Highland merupakan tujuan wajib jika anda berada di Malaysia.
Midnight Attack! : Suami Puas, Isteri yang Tersiksa
Midnight Attack!
Suami Puas, Isteri yang Tersiksa
Bercinta di tengah malam atau yang kerap disebut midnight attack memang menawarkan sensasi tersendiri bagi kaum pria. Setidaknya, hal ini diakui segelintir pria kendati tidak representatif. Selain rasa lelah sirna, stamina pun kian pulih setelah tidur yang cukup. Kendati demikian, bagaimana dengan psikologis sang isteri? Apakah mereka menyukai midnight attack?
Oleh : iwan suci Jatmiko
Rutinitas kaum metropolis khususnya kota besar memang berjalan seakan tak pernah berhenti. Otak dan tenaga dikuras hingga ke titik yang terendah. Fenomena ini tentunya berdampak ke hasrat bercinta manusia. Banyak individu baik pria maupun wanita yang hasrat bercinta menurun akibat aktivitas yang melampaui batas.
Gejala ini kerap dirasakan Edi, seorang marketing manager perusahaan swasta bertaraf internasional. Kesibukan Edi dalam bekerja seakan tak kenal waktu. Semakin tinggi karir seseorang, maka semakin tinggi pula tugas dan tanggung jawabnya. Setidaknya hal inilah yang selalu menerpa Edi. Alhasil, hasratnya bercinta dengan sang isteri pun menurun. Pasalnya, saat ia pulang ke rumah sudah dalam keadaan kelelahan.
Edi memang pasangan yang baru menikah beberapa bulan lalu. Seharusnya, hubungan ranjang Edi dengan sang isteri berjalan hangat dan menyenangkan. Tapi, Edi mengaku waktu khusus untuk mereka bercinta menjadi kendala utama. Maklum, Edi tipe workholic. “Tiap saya pulang ke rumah, badan saya sangat lelah karena rutinitas kantor. Jadi setelah saya membersihkan badan dan makan malam saya suka langsung tidur. Kalau untuk bercinta saya terlalu lelah,” kata Edi.
Lantas, apakah Edi tak pernah bercinta dengan sang isteri? Ternyata, tidur setelah makan malam adalah salah satu trik Edi guna mengembalikan stamina. “Saya suka istirahat dulu setelah seharian bekerja. Nah di malam hari saya suka terbangun dan di situlah saya mengajak isteri bercinta,” ungkapnya.
Edi mengaku, sang isteri tidak ambil pusing dengan perilaku yang dikenal dengan midnight attack itu. Kendati demikian, menurut Dr. Harjono Djatioetomo, Sp.And, Spesialis Andrologi dari Omni Medical Center berpandangan lain. Menurutnya, memang midnight attack kadang dianggap menawarkan sensasi lebih dalam bercinta tapi hal ini hanya dipandang dari sisi pria. Sedangkan dari segi wanita justru sebaliknya. “Wanita perlu prolog, bahwa dalam bercinta harus ada persiapannya. Misalnya, kita bilang dulu saat di kantor mengajak isteri bercinta. Nah saat itu pula si isteri berpikiran yaitu pada saat suamiku datang, aku harus bersiap-siap, dan lain-lain. Di situ birahinya mulai naik, karena dia tahu kalau nanti malam dia akan bercinta, jadi dia memanfaatkan situasi. Makanya begitu suaminya datang dia sudah betul-betul dalam keadaan siap, dan dia pasti akan cepat mengalami kepuasan. Itu kita lihat dari segi wanita,” jelas Dr. Harjono.
Menurut Dr. Harjono, berbagai macam predikat mulai serangan fajar, midnight attack, dan lainnya tak lebih menawarkan sensasi bercinta yang signifikan. Kondisi atau perasaan saat bercinta yang dialami pria tentu tak ada perbedaan. “Sepertinya hal itu sama saja, cuma mungkin stamina yang berbeda,” katanya. Namun, yang sulit bagi wanita adalah mengatur birahinya hingga pada puncak tertentu. “Ada wanita yang memang hidupnya malam. Misalnya, pelaku pekerja malam. Jadi mau malam jam berapa saja tidak masalah. Namun, bagi wanita pekerja kantoran, tentunya dari pagi sampai malam dia bekerja, dan kalau sudah tidur malam pasti sudah untuk dibangunkan,” jelasnya.
Alhasil, menurut Dr. Harjono, fenomena midnight attack dianggap sebagai sesuatu yang memberatkan bagi kaum wanita. Midnight attack bisa saja menurunkan kadar kenikmatan bercinta. “Si isteri merasakan midnight attack itu bisa jadi suatu siksaan. Yang ada di pikiran dia adalah harus bangun pagi menyiapkan segala sesuatunya, dan itu merusak pikiran saat bercinta. Sehingga dia bercinta asal-asalan. Jadi, umumnya untuk wanita tidak nikmat,” jelas Dr. Harjono.
Biasanya sang isteri senang bercinta jika ia tidak dibatasi jam. Misalnya, jam enam pagi isteri harus berangkat ke kerja, namun secara tiba-tiba sang suami jam lima pagi mengajaknya bercinta. Alhasil, ajakan itu tentu menimbulkan rasa tidak nyaman terhadap kadar bercinta sang isteri. “Yang ada di pikiran si isteri misalnya, aku harus menyiapkan ini, menyiapkan itu, dan lain-lain. karena suamiku mengajak bercinta jadi segala sesuatunya tertunda. Isteri biasanya senang bercinta kalau jeda waktunya panjang. Yaitu pada saat malam. Mungkin setelah makan malam, nonton TV dulu, ngobrol-ngobrol dulu, dia pasti lebih menikmati dan kemungkinan untuk orgasme itu lebih besar,” kata Dr. Harjono.
Tipikal Pria Egois
Memang bagi sebagian pria menganggap midnight attack menawarkan kepuasaan lebih, ketimbang seks dalam waktu reguler. Namun, sebenarnya ini adalah salah satu bentuk sikap keegoisan kaum pria. Pasalnya, belum tentu midnight attack itu memberikan kepuasaan terhadap keduanya. Harusnya, sang suami mampu membangun komunikasi yang efektif. Artinya, suami tak sungkan bertanya kepada isteri waktu bercinta yang disukainya. “Kadang-kadang memang tidak semua isteri senang dengan pilihan waktu bercinta kita. Misalnya isteri senang bercinta pagi hari sebelum mandi, atau di waktu lainnya. Nah di situ dia pasti akan mengalami kepuasan cepat. Hal-hal seperti itu yang harusnya kita tanya. Kalau orang yang egois, kapan pun dia menginginkannya, walau itu di tengah malam dia tetap mengajak isterinya bercinta. padahal belum tentu sang isteri menikmatinya,” jelas Dr. Harjono.
Wanita pekerja memang sudah memiliki pola waktu reguler dalam menjalani rutinitasnya. Misalnya, jam sepuluh malam dia tidur, jam empat pagi bangun tidur, mandi dan menyiapkan sarapan, dan jam enam berangkat kerja. Yang jadi persoalan di sini adalah jam berapa si suami melakukan midnight attack? Misalnya, hal itu dilakukan jam dua malam. Alhasil setelah bercinta waktu yang dimiliki sang isteri kian menipis. Artinya isteri hanya memiliki waktu sekitar dua jam untuk mengawali aktivitas di pagi hari. Jika si isteri memilih tidur setelah bercinta, tentunya ia tidak akan mendapatkan kualitas tidur terbaik. Namun, jika ia memilih untuk tidak tidur, tentu hal ini akan berdampak pada staminanya esok hari.
Lantas, apa akibat jangka panjang psikologis dari si isteri? “Itu tergantung karakter sang isteri. Ada tipe isteri yang dari awal berbakti pada suami. Seks baginya bukan sesuatu yang penting, jadi dia tinggal melayani sang suami saja. tapi bagi isteri yang menuntut kepuasan, mungkin dia akan berpikir kalau hal ini jadi kebiasaan tentu hidupnya tidak akan teratur,” jelasnya.
Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut tentu akan menimbulkan konflik yang berdampak pada keharmonisan rumahtangga. Beruntung jika sang isteri mempunyai keberanian untuk mengungkapkan keberatannya itu. Namun, jika tidak, batin sang isteri tentu tertekan dan beban psikologisnya kian bertambah. Sang isteri hanya memendam bebannya itu jauh di lubuk hati. Alhasil, berbagai penolakan bercinta pun timbul. Mulai dari alasan sakit flu, tidak enak badan, dan lainnya. “Menimbulkan konflik itu pasti, jadi tidak dianjurkan untuk melakukannya (midnight attack-Red),” katanya.
Biasanya fenomena midnight attack terjadi di pasangan muda. Sedngkan di pasangan umur pernikhannya lama jarang terjadi. “Untuk pasangan yang sudah lama biasanya cenderung memilih situasi. Karena umumnya wanita yang cukup berumur, mereka berani menolak. Sedangkan wanita muda sungkan menolak takut suaminya marah atau selingkuh,” jelasnya.
Ada beberapa teknik untuk menjauhkan keharmonisan keluarga dari konflik. Salah satunya adlah membangun komunikasi yang efektif. Jangan sungkan untuk bertanya pada isteri apakah ia menyukai midnight attack atau tidak. Jangan tabu membicarakan seks dengan pasangan. Sesibuk apapun anda, sempatkanlah membahas kehidupan ranjang anda dengan sang isteri. Seks yang dibentuk dengan keinginan berdua tentunya tidak akan menambah rasa lelah setelah seharian bekerja.
Motivasi orang bercinta memang berbeda-beda. Misalnya, bercinta karena hasrat yang menggebu, namun ada juga yang hanya menunaikan kewajiban. sebagian ada pula yang bercinta karena ingin punya anak. Kalau motivasinya untuk memiliki keturunan tentunya tidak akan berpikir enak atau tidaknya bercinta. Artinya, yang penting adalah bercinta di masa subur isteri. Hal seperti inilah yang harusnya diselami secara matang bagi tiap pasangan.
Bercinta dengan pasangan memang tak semudah membalik telapak tangan. Berhubungan seks tentunya membutuhkan persiapan matang. Di sisi wanita, pembentukan birahi tak semudah kaum pria. Umumnya kaum wanita lebih lama terbentuk hasratnya ketimbang kaum pria. Memang hal ini bersifat relatif. Tiap wanita memiliki tipe karakter yang berbeda-beda. “Ada yang satu jam, ada yang kurang dari satu jam, ada juga yang dua jam, bahkan ada pula yang setengah hari. Intinya, makin tua, makin lama. Itu pun tergantung situasi dan kondisi. Misalnya, setengah hari terbentuk dari siang saat ia ditelpon suaminya yang memberitahu kalau nanti malam akan bercinta. dari saat itulah si isteri mempersiapkan dirinya agar saat bercinta ia mampu mencapai orgasme,” kata Dr. Harjono.
Mengatur jadwal bercinta bagi pasangan sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Selama pintu komunikasi terbuka lebar, alhasil waktu yang tepat untuk bercinta, gaya bercinta, lokasi bercinta, dan lainnya jadi lebih mudah diatur. Selain itu, bercinta juga membutuhkan stamina yang prima. Vitamin dan makanan yang mengandung energi merupakan salah satu jawaban terbaik.
Jangan jadikan dalih sibuk untuk membenarkan midnight attack. Emski sibuk, anda juga bisa bercinta setiap hari, atau 2 – 3 kali seminggu dengan pasangan. Intinya, anda harus jeli dalam manajemen waktu bercinta, selama dilakukan secara rutin. Hal ini tentunya bermanfaat. Hubungan emosional anda dengan pasangan tentu lebih dekat dan kadar cinta keduanya kian bertambah.
Midnight attack sebenarnya sah-sah saja dilakukan selama anda jeli melihat kondisi pasangan. Sedikit rayuan dan pijatan terhadap isteri tentunya sangat berguna. Kalau pasangan anda teramat lelah, anda bisa lakukan pijatan-pijatan yang sensitif. Tentunya ini di bagian yang disukainya saat bercinta atau di bagian-bagian yang dirasa pegal. Pijatan tak hanya bersifat untuk relaksasi otot, namun bisa juga menjadi daya rangsang yang cukup efektif bagi pasangan. Bisa jadi pasangan anda yang tadinya menolak bercinta karena capek, justru bergairah dan langsung meladeni keinginan anda untuk bercinta.
Suami Puas, Isteri yang Tersiksa
Bercinta di tengah malam atau yang kerap disebut midnight attack memang menawarkan sensasi tersendiri bagi kaum pria. Setidaknya, hal ini diakui segelintir pria kendati tidak representatif. Selain rasa lelah sirna, stamina pun kian pulih setelah tidur yang cukup. Kendati demikian, bagaimana dengan psikologis sang isteri? Apakah mereka menyukai midnight attack?
Oleh : iwan suci Jatmiko
Rutinitas kaum metropolis khususnya kota besar memang berjalan seakan tak pernah berhenti. Otak dan tenaga dikuras hingga ke titik yang terendah. Fenomena ini tentunya berdampak ke hasrat bercinta manusia. Banyak individu baik pria maupun wanita yang hasrat bercinta menurun akibat aktivitas yang melampaui batas.
Gejala ini kerap dirasakan Edi, seorang marketing manager perusahaan swasta bertaraf internasional. Kesibukan Edi dalam bekerja seakan tak kenal waktu. Semakin tinggi karir seseorang, maka semakin tinggi pula tugas dan tanggung jawabnya. Setidaknya hal inilah yang selalu menerpa Edi. Alhasil, hasratnya bercinta dengan sang isteri pun menurun. Pasalnya, saat ia pulang ke rumah sudah dalam keadaan kelelahan.
Edi memang pasangan yang baru menikah beberapa bulan lalu. Seharusnya, hubungan ranjang Edi dengan sang isteri berjalan hangat dan menyenangkan. Tapi, Edi mengaku waktu khusus untuk mereka bercinta menjadi kendala utama. Maklum, Edi tipe workholic. “Tiap saya pulang ke rumah, badan saya sangat lelah karena rutinitas kantor. Jadi setelah saya membersihkan badan dan makan malam saya suka langsung tidur. Kalau untuk bercinta saya terlalu lelah,” kata Edi.
Lantas, apakah Edi tak pernah bercinta dengan sang isteri? Ternyata, tidur setelah makan malam adalah salah satu trik Edi guna mengembalikan stamina. “Saya suka istirahat dulu setelah seharian bekerja. Nah di malam hari saya suka terbangun dan di situlah saya mengajak isteri bercinta,” ungkapnya.
Edi mengaku, sang isteri tidak ambil pusing dengan perilaku yang dikenal dengan midnight attack itu. Kendati demikian, menurut Dr. Harjono Djatioetomo, Sp.And, Spesialis Andrologi dari Omni Medical Center berpandangan lain. Menurutnya, memang midnight attack kadang dianggap menawarkan sensasi lebih dalam bercinta tapi hal ini hanya dipandang dari sisi pria. Sedangkan dari segi wanita justru sebaliknya. “Wanita perlu prolog, bahwa dalam bercinta harus ada persiapannya. Misalnya, kita bilang dulu saat di kantor mengajak isteri bercinta. Nah saat itu pula si isteri berpikiran yaitu pada saat suamiku datang, aku harus bersiap-siap, dan lain-lain. Di situ birahinya mulai naik, karena dia tahu kalau nanti malam dia akan bercinta, jadi dia memanfaatkan situasi. Makanya begitu suaminya datang dia sudah betul-betul dalam keadaan siap, dan dia pasti akan cepat mengalami kepuasan. Itu kita lihat dari segi wanita,” jelas Dr. Harjono.
Menurut Dr. Harjono, berbagai macam predikat mulai serangan fajar, midnight attack, dan lainnya tak lebih menawarkan sensasi bercinta yang signifikan. Kondisi atau perasaan saat bercinta yang dialami pria tentu tak ada perbedaan. “Sepertinya hal itu sama saja, cuma mungkin stamina yang berbeda,” katanya. Namun, yang sulit bagi wanita adalah mengatur birahinya hingga pada puncak tertentu. “Ada wanita yang memang hidupnya malam. Misalnya, pelaku pekerja malam. Jadi mau malam jam berapa saja tidak masalah. Namun, bagi wanita pekerja kantoran, tentunya dari pagi sampai malam dia bekerja, dan kalau sudah tidur malam pasti sudah untuk dibangunkan,” jelasnya.
Alhasil, menurut Dr. Harjono, fenomena midnight attack dianggap sebagai sesuatu yang memberatkan bagi kaum wanita. Midnight attack bisa saja menurunkan kadar kenikmatan bercinta. “Si isteri merasakan midnight attack itu bisa jadi suatu siksaan. Yang ada di pikiran dia adalah harus bangun pagi menyiapkan segala sesuatunya, dan itu merusak pikiran saat bercinta. Sehingga dia bercinta asal-asalan. Jadi, umumnya untuk wanita tidak nikmat,” jelas Dr. Harjono.
Biasanya sang isteri senang bercinta jika ia tidak dibatasi jam. Misalnya, jam enam pagi isteri harus berangkat ke kerja, namun secara tiba-tiba sang suami jam lima pagi mengajaknya bercinta. Alhasil, ajakan itu tentu menimbulkan rasa tidak nyaman terhadap kadar bercinta sang isteri. “Yang ada di pikiran si isteri misalnya, aku harus menyiapkan ini, menyiapkan itu, dan lain-lain. karena suamiku mengajak bercinta jadi segala sesuatunya tertunda. Isteri biasanya senang bercinta kalau jeda waktunya panjang. Yaitu pada saat malam. Mungkin setelah makan malam, nonton TV dulu, ngobrol-ngobrol dulu, dia pasti lebih menikmati dan kemungkinan untuk orgasme itu lebih besar,” kata Dr. Harjono.
Tipikal Pria Egois
Memang bagi sebagian pria menganggap midnight attack menawarkan kepuasaan lebih, ketimbang seks dalam waktu reguler. Namun, sebenarnya ini adalah salah satu bentuk sikap keegoisan kaum pria. Pasalnya, belum tentu midnight attack itu memberikan kepuasaan terhadap keduanya. Harusnya, sang suami mampu membangun komunikasi yang efektif. Artinya, suami tak sungkan bertanya kepada isteri waktu bercinta yang disukainya. “Kadang-kadang memang tidak semua isteri senang dengan pilihan waktu bercinta kita. Misalnya isteri senang bercinta pagi hari sebelum mandi, atau di waktu lainnya. Nah di situ dia pasti akan mengalami kepuasan cepat. Hal-hal seperti itu yang harusnya kita tanya. Kalau orang yang egois, kapan pun dia menginginkannya, walau itu di tengah malam dia tetap mengajak isterinya bercinta. padahal belum tentu sang isteri menikmatinya,” jelas Dr. Harjono.
Wanita pekerja memang sudah memiliki pola waktu reguler dalam menjalani rutinitasnya. Misalnya, jam sepuluh malam dia tidur, jam empat pagi bangun tidur, mandi dan menyiapkan sarapan, dan jam enam berangkat kerja. Yang jadi persoalan di sini adalah jam berapa si suami melakukan midnight attack? Misalnya, hal itu dilakukan jam dua malam. Alhasil setelah bercinta waktu yang dimiliki sang isteri kian menipis. Artinya isteri hanya memiliki waktu sekitar dua jam untuk mengawali aktivitas di pagi hari. Jika si isteri memilih tidur setelah bercinta, tentunya ia tidak akan mendapatkan kualitas tidur terbaik. Namun, jika ia memilih untuk tidak tidur, tentu hal ini akan berdampak pada staminanya esok hari.
Lantas, apa akibat jangka panjang psikologis dari si isteri? “Itu tergantung karakter sang isteri. Ada tipe isteri yang dari awal berbakti pada suami. Seks baginya bukan sesuatu yang penting, jadi dia tinggal melayani sang suami saja. tapi bagi isteri yang menuntut kepuasan, mungkin dia akan berpikir kalau hal ini jadi kebiasaan tentu hidupnya tidak akan teratur,” jelasnya.
Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut tentu akan menimbulkan konflik yang berdampak pada keharmonisan rumahtangga. Beruntung jika sang isteri mempunyai keberanian untuk mengungkapkan keberatannya itu. Namun, jika tidak, batin sang isteri tentu tertekan dan beban psikologisnya kian bertambah. Sang isteri hanya memendam bebannya itu jauh di lubuk hati. Alhasil, berbagai penolakan bercinta pun timbul. Mulai dari alasan sakit flu, tidak enak badan, dan lainnya. “Menimbulkan konflik itu pasti, jadi tidak dianjurkan untuk melakukannya (midnight attack-Red),” katanya.
Biasanya fenomena midnight attack terjadi di pasangan muda. Sedngkan di pasangan umur pernikhannya lama jarang terjadi. “Untuk pasangan yang sudah lama biasanya cenderung memilih situasi. Karena umumnya wanita yang cukup berumur, mereka berani menolak. Sedangkan wanita muda sungkan menolak takut suaminya marah atau selingkuh,” jelasnya.
Ada beberapa teknik untuk menjauhkan keharmonisan keluarga dari konflik. Salah satunya adlah membangun komunikasi yang efektif. Jangan sungkan untuk bertanya pada isteri apakah ia menyukai midnight attack atau tidak. Jangan tabu membicarakan seks dengan pasangan. Sesibuk apapun anda, sempatkanlah membahas kehidupan ranjang anda dengan sang isteri. Seks yang dibentuk dengan keinginan berdua tentunya tidak akan menambah rasa lelah setelah seharian bekerja.
Motivasi orang bercinta memang berbeda-beda. Misalnya, bercinta karena hasrat yang menggebu, namun ada juga yang hanya menunaikan kewajiban. sebagian ada pula yang bercinta karena ingin punya anak. Kalau motivasinya untuk memiliki keturunan tentunya tidak akan berpikir enak atau tidaknya bercinta. Artinya, yang penting adalah bercinta di masa subur isteri. Hal seperti inilah yang harusnya diselami secara matang bagi tiap pasangan.
Bercinta dengan pasangan memang tak semudah membalik telapak tangan. Berhubungan seks tentunya membutuhkan persiapan matang. Di sisi wanita, pembentukan birahi tak semudah kaum pria. Umumnya kaum wanita lebih lama terbentuk hasratnya ketimbang kaum pria. Memang hal ini bersifat relatif. Tiap wanita memiliki tipe karakter yang berbeda-beda. “Ada yang satu jam, ada yang kurang dari satu jam, ada juga yang dua jam, bahkan ada pula yang setengah hari. Intinya, makin tua, makin lama. Itu pun tergantung situasi dan kondisi. Misalnya, setengah hari terbentuk dari siang saat ia ditelpon suaminya yang memberitahu kalau nanti malam akan bercinta. dari saat itulah si isteri mempersiapkan dirinya agar saat bercinta ia mampu mencapai orgasme,” kata Dr. Harjono.
Mengatur jadwal bercinta bagi pasangan sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Selama pintu komunikasi terbuka lebar, alhasil waktu yang tepat untuk bercinta, gaya bercinta, lokasi bercinta, dan lainnya jadi lebih mudah diatur. Selain itu, bercinta juga membutuhkan stamina yang prima. Vitamin dan makanan yang mengandung energi merupakan salah satu jawaban terbaik.
Jangan jadikan dalih sibuk untuk membenarkan midnight attack. Emski sibuk, anda juga bisa bercinta setiap hari, atau 2 – 3 kali seminggu dengan pasangan. Intinya, anda harus jeli dalam manajemen waktu bercinta, selama dilakukan secara rutin. Hal ini tentunya bermanfaat. Hubungan emosional anda dengan pasangan tentu lebih dekat dan kadar cinta keduanya kian bertambah.
Midnight attack sebenarnya sah-sah saja dilakukan selama anda jeli melihat kondisi pasangan. Sedikit rayuan dan pijatan terhadap isteri tentunya sangat berguna. Kalau pasangan anda teramat lelah, anda bisa lakukan pijatan-pijatan yang sensitif. Tentunya ini di bagian yang disukainya saat bercinta atau di bagian-bagian yang dirasa pegal. Pijatan tak hanya bersifat untuk relaksasi otot, namun bisa juga menjadi daya rangsang yang cukup efektif bagi pasangan. Bisa jadi pasangan anda yang tadinya menolak bercinta karena capek, justru bergairah dan langsung meladeni keinginan anda untuk bercinta.
Revolusi Film di Jalur
Revolusi Film di Jalur
Hiburan
Perkembangan industri film sekarang ini memang mengagumkan. Berbagai inovasi dari berbagai segi selalu mewarnai sebuah film baru. Hal-hal yang sulit dicerna akal sehat dan mustahil akhirnya bisa diwujudkan dengan bantuan software komputer. Dunia perfilman memang memungkinkan hal-hal yang tadinya hanya sebatas imajinasi menjadi kenyataan. Benar-benar sebuah revolusi di jalur hiburan!
Oleh: Iwan Suci Jatmiko
Dulu, ada aktor yang piawai dalam bela diri seperti Bruce Lee, Jacky Chan, Jet Li, dan lainnya. Aktor-aktor tersebut pun laris manis dengan membintangi berbagai film layar lebar. Kini, dengan kemajuan teknologi seorang aktor tidak perlu lagi membutuhkan keahlian berkungfu untuk memperagakan jurus bela diri. Tentu saja dengan bantuan komputer industri film semakin terbuka dan tak mengenal batas. Alhasil, kreasi di dunia perfilman semakin sensasional dan imajinatif.
Sebenarnya, perkembangan dunia film itu bukan hanya dari teknologi semata. Banyak film-film menjadi legendaris karena faktor besutan sang sutradara. Selain itu, banyak juga film yang tidak kental dengan efek komputer namun laris di pasaran. Memang pasar film sulit ditebak. Karakter penonton terkesan beragam. Kendati demikian, film dengan teknologi tinggi memang selalu mempunyai tempat tersendiri di hati penikmat film.
Selain itu, banyak juga film yang diangkat dari kisah nyata dan menuai sukses di pasaran. Tragedi kecelakaan kapal pesiar mewah Titanic pun akhirnya diangkat ke layar lebar. Hasilnya, film yang di bintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet ini pun meledak di pasaran.
Film bertajuk Titanic ini pun belum tentu sesuai dengan realita. Pasalnya, film ini mengangkat sisi lain dari kejadian primernya, yaitu kecelakaan kapal pesiar yang menabrak gunung es. Film ini lebih mengeksplorasi kisah cinta dua anak manusia yang berasal dari dua kalangan yang berbeda kelas. Klimaksnya pun berakhir dengan tragedi meninggalnya sang pria. Namun, ternyata penonton lebih menyukai kisah cinta yang dominan di film ini ketimbang tragedi kecelakaannya. Tentu saja kecanggihan teknologi juga berperan di film ini.
Kisah Muhammad Ali, sang petinju kontroversial itu pun tak luput diangkat ke layar lebar. Film tentang legenda petinju kontroversial ini difilmkan baik secara dokumenter maupun komersil. Tentu saja latar belakang jenis karakter film ini berbeda. Maklum, namanya juga film, eksplorasi sebagai bumbu di dalam film kian inovatif. Bahkan, semakin inovatif atau bahkan kontroversial sebuah film, maka animo penikmat film pun lebih tinggi. Maka, tidak tertutup kemungkinan sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, hasilnya ternyata melenceng jauh dari kejadian yang sesungguhnya.
Teknologi Tinggi
Sekitar tahun 1980-an kita memang selalu dibuat kagum dengan kecanggihan efek film Startrek. Film yang bercerita tentang penjelajahan angkasa luas ini sempat menyedot perhatian penikmat film. Kini, film seperti itu terkesan ketinggalan zaman. Puluhan atau bahkan ratusan film kini tercipta dengan kecanggihan efek yang luar biasa. Para pelaku perfilman terus mengeksplorasi film yang jauh diluar batas imanijasi.
Film memang merupakan dimensi tersendiri bagi mata. Pesona audio dan visualnya mampu membuat penonton larut dalam cerita sebuah film. Kini, sederet film menggunakan teknologi tinggi terus bermunculan. Lihat saja film Jurassic Park besutan sutradara kondang Steven Spielberg. Film ini mampu menghadirkan kengerian bahwa seolah-olah mahluk ganas seperti dinosaurus tampak nyata. Belum lagi adegan pertarungan yang begitu futuristik di film Matrix. Selain itu, tercatat beberapa film yang mengambil tema bencana pun menuai sukses di pasaran. Perfect Storm misalnya, keganasan badai di laut digambarkan begitu nyata. Tak kalah hebatnya film Armageddon, ilustrasi kehancuran bumi di film ini begitu fantastis dan seolah-olah nyata.
Star Wars termasuk salah satu film yang tak lekang ditelan waktu. Tiap episode Star Wars kerap menuai sukses di pasaran. Film yang berkisah tentang perang antar galaksi ini begitu imajinatif dan jauh dari realita. Visual efeknya pun sangat mengagumkan. Benang merah di film ini adalah perang antara kekuatan jahat dengan kekuatan baik. Kekuatan jahat dimiliki oleh kelompok Sith, sementara kekuatan baik dimiliki oleh kelompok Republik dan kesatria Jedi.
Star Wars yang pertama kali dirilis adalah Episode IV. Ceritanya bermula dari petualangan anak petani di Tatoonine bernama Luke Skywalker (Mark Hamill). Suatu hari tanpa sengaja dia bertemu dengan Han Solo (Harrison Ford), Ben Kenobi (Alec Guinness), C3PO, R2-D2, dan Chewbacca. Geng ini berusaha untuk menyelamatkan pemimpin pemberontakan, Princess Leia (Carrie Fisher). Pada episode ini, cerita bergulir mengenai bagaimana mereka menghadapi musuh utama, Darth Vader.
Star Wars merupakan sebuah terobosan besar di industri film. Banyak hal baru yang bisa ditonjolkan dalam film ini. Bukan hanya cerita yang mengasyikan, namun teknologi yang mengimplementasikan imajinasi begitu memukau. Hasilnya, sebuah fantasi yang begitu mengagumkan. Karakter yang ditampilkan bukan hanya manusia. Beberapa mahluk dengan berbagai karakter mewarnai film ini seperti Droid, Chewbacca, Wookiees, dan banyak lagi makhluk lain dengan bentuk yang kontroversial tapi unik.
Diangkat dari Komik
Baru-baru ini film yang mengisahkan superhero manusia kelelawar kembali dirilis dengan judul Batman Begins. Dirilisnya film ini menandakan karakter yang berawal dari komik DC ini tak habis ditelan waktu. Memang beberapa film yang diangkat dari komik menuai sukses yang cukup besar. Pertarungan studio komik terbesar di Amerika yaitu, DC dan Marvel terus berlanjut hingga saat ini.
DC sempat meraja setelah karakter Superman diangkat ke layar lebar. Tiga seri Superman yang dibintangi Christopher Revee meledak di pasaran. Saat itu, Marvel hanya bisa menunduk melihat prestasi DC. Bahkan, sekitar tahun 1989 Marvel kian tenggelam setelah karakter Batman diangkat juga ke layar lebar. Sementara Spiderman yang menjadi andalan Marvel hanya menghiasi layar televisi sebagai film seri.
Batman memang sebuah karakter yang cukup legendaris. Manusia Kelelawar yang satu ini memang berbeda dengan superhero yang lainnya. Batman mengandalkan otaknya sebagai manusia dan kekayaan yang mendukungnya. Berbeda dengan sosok superhero lainnya yang memiliki kekuatan super. Sosok manusiawi Batman inilah yang membuat cerita di filmnya terkesan lebih nyata.
Sosok Batman sendiri diciptakan oleh Bob Kane sekitar tahun 1940. idenya, untuk menjadi seorang superhero ternyata tidak perlu disengat laba-laba ataupun terkena cairan kimia. Cukup ubah rasa takut atau marah menjadi sebuah kekuatan, jadilah seorang superhero baru bernama Batman. Maka, semua orang bisa jadi Batman.
Sosok Bruce Wayne memang dilahirkan sebagai manusia biasa, namun diwarisi kekayaan yang berlimpah. Selain itu, Bruce adalah pria yang jenius. Alhasil, dengan mudah ia menciptakan berbagai macam alat untuk membantunya dalam melaksanakan tugasnya menegakkan keadilan. Hal ini terkesan mustahil, tapi bisa saja terjadi di dunia yang sebenarnya.
Lantas, apakah Superman dan Batman menandakan semakin berjayanya komik DC? Tentu tidak! Marvel meulai menunjukkan taringnya ketika X-Men diangkat ke layar lebar. Rumah produksi raksasa 20th Century Fox mengambil licensi X-men dan langsung merilisnya dalam beberapa sekuel. Sementara itu, sekitar tahun 2002 rumah produksi Columbia Pictures juga tergoda untuk mengambil lisensi Spiderman. Hebatnya, Spiderman pun menuai prestasi mengagumkan. Bahkan, setelah sukses dengan Spiderman (2002) dan Spiderman 2 (2004), kabarnya Columbia Pictures juga akan merilis Spiderman 3 sekitar tahun 2007.
Hiburan
Perkembangan industri film sekarang ini memang mengagumkan. Berbagai inovasi dari berbagai segi selalu mewarnai sebuah film baru. Hal-hal yang sulit dicerna akal sehat dan mustahil akhirnya bisa diwujudkan dengan bantuan software komputer. Dunia perfilman memang memungkinkan hal-hal yang tadinya hanya sebatas imajinasi menjadi kenyataan. Benar-benar sebuah revolusi di jalur hiburan!
Oleh: Iwan Suci Jatmiko
Dulu, ada aktor yang piawai dalam bela diri seperti Bruce Lee, Jacky Chan, Jet Li, dan lainnya. Aktor-aktor tersebut pun laris manis dengan membintangi berbagai film layar lebar. Kini, dengan kemajuan teknologi seorang aktor tidak perlu lagi membutuhkan keahlian berkungfu untuk memperagakan jurus bela diri. Tentu saja dengan bantuan komputer industri film semakin terbuka dan tak mengenal batas. Alhasil, kreasi di dunia perfilman semakin sensasional dan imajinatif.
Sebenarnya, perkembangan dunia film itu bukan hanya dari teknologi semata. Banyak film-film menjadi legendaris karena faktor besutan sang sutradara. Selain itu, banyak juga film yang tidak kental dengan efek komputer namun laris di pasaran. Memang pasar film sulit ditebak. Karakter penonton terkesan beragam. Kendati demikian, film dengan teknologi tinggi memang selalu mempunyai tempat tersendiri di hati penikmat film.
Selain itu, banyak juga film yang diangkat dari kisah nyata dan menuai sukses di pasaran. Tragedi kecelakaan kapal pesiar mewah Titanic pun akhirnya diangkat ke layar lebar. Hasilnya, film yang di bintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet ini pun meledak di pasaran.
Film bertajuk Titanic ini pun belum tentu sesuai dengan realita. Pasalnya, film ini mengangkat sisi lain dari kejadian primernya, yaitu kecelakaan kapal pesiar yang menabrak gunung es. Film ini lebih mengeksplorasi kisah cinta dua anak manusia yang berasal dari dua kalangan yang berbeda kelas. Klimaksnya pun berakhir dengan tragedi meninggalnya sang pria. Namun, ternyata penonton lebih menyukai kisah cinta yang dominan di film ini ketimbang tragedi kecelakaannya. Tentu saja kecanggihan teknologi juga berperan di film ini.
Kisah Muhammad Ali, sang petinju kontroversial itu pun tak luput diangkat ke layar lebar. Film tentang legenda petinju kontroversial ini difilmkan baik secara dokumenter maupun komersil. Tentu saja latar belakang jenis karakter film ini berbeda. Maklum, namanya juga film, eksplorasi sebagai bumbu di dalam film kian inovatif. Bahkan, semakin inovatif atau bahkan kontroversial sebuah film, maka animo penikmat film pun lebih tinggi. Maka, tidak tertutup kemungkinan sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, hasilnya ternyata melenceng jauh dari kejadian yang sesungguhnya.
Teknologi Tinggi
Sekitar tahun 1980-an kita memang selalu dibuat kagum dengan kecanggihan efek film Startrek. Film yang bercerita tentang penjelajahan angkasa luas ini sempat menyedot perhatian penikmat film. Kini, film seperti itu terkesan ketinggalan zaman. Puluhan atau bahkan ratusan film kini tercipta dengan kecanggihan efek yang luar biasa. Para pelaku perfilman terus mengeksplorasi film yang jauh diluar batas imanijasi.
Film memang merupakan dimensi tersendiri bagi mata. Pesona audio dan visualnya mampu membuat penonton larut dalam cerita sebuah film. Kini, sederet film menggunakan teknologi tinggi terus bermunculan. Lihat saja film Jurassic Park besutan sutradara kondang Steven Spielberg. Film ini mampu menghadirkan kengerian bahwa seolah-olah mahluk ganas seperti dinosaurus tampak nyata. Belum lagi adegan pertarungan yang begitu futuristik di film Matrix. Selain itu, tercatat beberapa film yang mengambil tema bencana pun menuai sukses di pasaran. Perfect Storm misalnya, keganasan badai di laut digambarkan begitu nyata. Tak kalah hebatnya film Armageddon, ilustrasi kehancuran bumi di film ini begitu fantastis dan seolah-olah nyata.
Star Wars termasuk salah satu film yang tak lekang ditelan waktu. Tiap episode Star Wars kerap menuai sukses di pasaran. Film yang berkisah tentang perang antar galaksi ini begitu imajinatif dan jauh dari realita. Visual efeknya pun sangat mengagumkan. Benang merah di film ini adalah perang antara kekuatan jahat dengan kekuatan baik. Kekuatan jahat dimiliki oleh kelompok Sith, sementara kekuatan baik dimiliki oleh kelompok Republik dan kesatria Jedi.
Star Wars yang pertama kali dirilis adalah Episode IV. Ceritanya bermula dari petualangan anak petani di Tatoonine bernama Luke Skywalker (Mark Hamill). Suatu hari tanpa sengaja dia bertemu dengan Han Solo (Harrison Ford), Ben Kenobi (Alec Guinness), C3PO, R2-D2, dan Chewbacca. Geng ini berusaha untuk menyelamatkan pemimpin pemberontakan, Princess Leia (Carrie Fisher). Pada episode ini, cerita bergulir mengenai bagaimana mereka menghadapi musuh utama, Darth Vader.
Star Wars merupakan sebuah terobosan besar di industri film. Banyak hal baru yang bisa ditonjolkan dalam film ini. Bukan hanya cerita yang mengasyikan, namun teknologi yang mengimplementasikan imajinasi begitu memukau. Hasilnya, sebuah fantasi yang begitu mengagumkan. Karakter yang ditampilkan bukan hanya manusia. Beberapa mahluk dengan berbagai karakter mewarnai film ini seperti Droid, Chewbacca, Wookiees, dan banyak lagi makhluk lain dengan bentuk yang kontroversial tapi unik.
Diangkat dari Komik
Baru-baru ini film yang mengisahkan superhero manusia kelelawar kembali dirilis dengan judul Batman Begins. Dirilisnya film ini menandakan karakter yang berawal dari komik DC ini tak habis ditelan waktu. Memang beberapa film yang diangkat dari komik menuai sukses yang cukup besar. Pertarungan studio komik terbesar di Amerika yaitu, DC dan Marvel terus berlanjut hingga saat ini.
DC sempat meraja setelah karakter Superman diangkat ke layar lebar. Tiga seri Superman yang dibintangi Christopher Revee meledak di pasaran. Saat itu, Marvel hanya bisa menunduk melihat prestasi DC. Bahkan, sekitar tahun 1989 Marvel kian tenggelam setelah karakter Batman diangkat juga ke layar lebar. Sementara Spiderman yang menjadi andalan Marvel hanya menghiasi layar televisi sebagai film seri.
Batman memang sebuah karakter yang cukup legendaris. Manusia Kelelawar yang satu ini memang berbeda dengan superhero yang lainnya. Batman mengandalkan otaknya sebagai manusia dan kekayaan yang mendukungnya. Berbeda dengan sosok superhero lainnya yang memiliki kekuatan super. Sosok manusiawi Batman inilah yang membuat cerita di filmnya terkesan lebih nyata.
Sosok Batman sendiri diciptakan oleh Bob Kane sekitar tahun 1940. idenya, untuk menjadi seorang superhero ternyata tidak perlu disengat laba-laba ataupun terkena cairan kimia. Cukup ubah rasa takut atau marah menjadi sebuah kekuatan, jadilah seorang superhero baru bernama Batman. Maka, semua orang bisa jadi Batman.
Sosok Bruce Wayne memang dilahirkan sebagai manusia biasa, namun diwarisi kekayaan yang berlimpah. Selain itu, Bruce adalah pria yang jenius. Alhasil, dengan mudah ia menciptakan berbagai macam alat untuk membantunya dalam melaksanakan tugasnya menegakkan keadilan. Hal ini terkesan mustahil, tapi bisa saja terjadi di dunia yang sebenarnya.
Lantas, apakah Superman dan Batman menandakan semakin berjayanya komik DC? Tentu tidak! Marvel meulai menunjukkan taringnya ketika X-Men diangkat ke layar lebar. Rumah produksi raksasa 20th Century Fox mengambil licensi X-men dan langsung merilisnya dalam beberapa sekuel. Sementara itu, sekitar tahun 2002 rumah produksi Columbia Pictures juga tergoda untuk mengambil lisensi Spiderman. Hebatnya, Spiderman pun menuai prestasi mengagumkan. Bahkan, setelah sukses dengan Spiderman (2002) dan Spiderman 2 (2004), kabarnya Columbia Pictures juga akan merilis Spiderman 3 sekitar tahun 2007.
Gurihnya Bisnis Lendir
Gurihnya Bisnis Lendir
Fenomena Film Porno Sebagai Industri
Bisnis di jalur hiburan memang begitu menjanjikan. Di sini semuanya seakan tak pernah redup ditelan waktu. Gelimpang materi dan kepuasan lainnya selalu mewarnai para pelaku yang bergerak di industri ini. Salah satunya adalah bisnis film porno. Di belahan negara tertentu, bisnis ini berkembang menjadi sebuah industri yang cukup pesat.
Oleh: Iwan Suci Jatmiko
Jika ada dihitung secara statistik, maka Amerika terbilang sebagai produsen film porno terbesar di dunia. Di Amerika, produsen film porno tumbuh subur dan terkenal hampir di seluruh penjuru dunia. Sebut saja produsen major label seperti Vivid, Hustler, Sin City atau yang indie label seperti Dogfart dan Bangbus kerap kali mengeluarkan film terbaru mereka hanya dalam yang relatif singkat. Ini karena Amerika dianggap sebagai negara bebas.
Sebenarnya, berjalan jalur ini seperti berada di dunia yang keras dan gelap. Khususnya bagi kaum hawa. Ternyata, bisnis ini juga melibatkan pihak lain yang tentunya berkaitan dengan beragam profesi. Sebuah hierarki yang tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita juga bisa diimplementasikan di bisnis ini. Pasalnya, roda industri film porno juga melibatkan banyak pihak seperti, artis, produser, production house, agen, petugas kesehatan, pengacara, pemerintah, pihak akademik, dan yang utama adalah konsumen, jangan munafik! Mungkin kita salah satunya. Artinya, kita juga bagian dari hierarki itu.
Di negara yang menafsirkan pornografi lebih luas seperti di Amerika, sebenarnya bintang porno termasuk pekerjaan yang lumayan menguntungkan. Bahkan, mereka kerap kali mendapatkan akses dan fasilitas lebih layaknya bintang film umumnya. Selain itu, mereka juga mendatapkan privasi keamanan dan jaminan tertentu. Artinya, profesi bintang porno bukanlah suatu profesi yang layak untuk dilecehkan. Pasalnya, industri film porno setidak-tidaknya mendatangkan pendapatan, retribusi dan pajak untuk negara.
Karakter Pasar
Film porno ternyata juga mempunyai karakter konsumen tersendiri. Dari sekedar adegan bugil, lesbian, homo, anal seks, oral, hingga yang melibatkan alat bantu dan binatang sekalipun ini semuanya tergantung selera. Di Amerika, film yang digemari adalah yang tidak menggunakan kondom. Banyak orang Amerika yang tidak suka melihat film porno yang menggunakan kondom. Begitu pula dengan masyarakat di berbagai negara. Tapi, hal ini tentunya bisa membawa dampak buruk bagi si pemain. Pasalnya, berbagai jenis penyakit kelamin kerap kali mengantui mereka.
Alhasil, belakangan ini muncul himbauan agar para pelaku di bisnis itu mewajibkan penggunaan kondom. Pejabat kesehatan California mengimbau penggunaan kondom dalam setiap adegan intim, termasuk pemeriksaan rutin bagi para pemainnya. Sayangnya, sejumlah produser menolak dengan alasan bakal merusak kualitas film. Salah satu produsen dan studio film porno raksasa Vivid mengaku sudah mewajibkan pengunaan kondom bagi pemainnya selama beberapa tahun belakangan ini. Tapi ternyata hal itu merugikan mereka secara finansial. Akhirnya, kini banyak film-film porno di Amerika yang diproduksi tanpa mengenakan kondom.
Industri film porno di Amerika seharusnya mencontoh Brazil dalam menekan penyebaran penyakit kelamin. Sebagai industri esek-esek terbesar di Amerika Latin, Brazil selalu menekankan kepada artis porno untuk selalu menggunakan kondom. Pemerintah Brazil memang tidak mengharuskan aktor film porno melakukan tes HIV. Tapi, sudah lama mereka mengharuskan menggunakan kondom untuk mencegah aktornya terinfeksi HIV.
Meski industri film porno di Brazil belum diatur dalam undang-undang, namun sebagian besar rumah produksi mengharuskan para aktornya menggunakan kondom. Ini dipandang lebih efektif daripada menjalani tes HIV rutin dengan biaya USD 140 untuk tiap tes. Selain masalah finansial, produser juga takut dituntut oleh aktor apabila mereka terinfeksi HIV saat bekerja.
Industri film porno Brazil memang tak sebesar Amerika. Pendapatannya hanya USD 100 juta per tahun. Tapi Brazil dianggap sebagai yang terbesar di dunia setelah AS, dan terus tumbuh. Industri esek-esek itu berpusat di Sao Paulo, kota terbesar di Brazil. Penjualannya secara bebas dalam bentuk video atau DVD.
Bahkan, banyak sutradara film porno AS memproduksi filmnya di Brazil. Alasannya pun simpel, selain wanita latin yang terkenal eksotis, latar belakang alam tropis yang indah, serta biaya produksi yang sangat murah. Fenomena ini kerap kali membuat Brazil menjadi tujuan utama dalam pembuatan film porno.
Bintang Porno
Film memang tak jauh dengan para bintangnya. Tercatat beberapa nama bintang yang kian mendunia di industri ini. Bahkan, beberapa wanita keturunan Asia pun namanya kian melambung. Ironis memang, budaya timur yang katanya memegang teguh moralitas justru melahirkan bintang-bintang porno sensasional. Kendati demikian, banyak juga bintang bule ataupun negro yang tak kalah terkenalnya.
Rata-rata bintang porno mulai memasuki industri itu di usia yang sangat muda. Faktor utamanya pun klise, dari kebutuhan kebutuhan ekonomi hingga kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis. Bahkan sebagian berasal dari kalangan yang gagal menjadi bintang film yang sebenarnya. Biasanya, mereka juga tidak bisa meninggalkan wilayah itu. Walaupun mereka memutuskan untuk pensiun, tapi mereka kerap kali berada dalam hierarki itu. Misalnya dengan menjadi agen bintang porno, mendirikan rumah produksi porno atau hal-hal lain yang masih berbau mesum. Jarang diantara mereka yang justru eksis di dunia film sungguhan.
Tapi jangan salah! Tidak semua bintang porno berasal dari lingkungan yang gelap. Nama Asia Carera tentu tidak asing lagi di telinga pecinta film porno. Setiap filmnya selalu menjadi incaran para penggemar film porno. Ternyata, gadis seksi nan sensual ini berasal dari keluarga yang bahagia. Bahkan, prestasinya di bidang akademik pun cukup mengagumkan. Menurutnya, menjadi bintang porno adalah merupakan sebuah pilihan. “Saya sangat menyukai pekerjaan saya,” kata Asia seperti dikutip dari situs pribadinya. Bintang yang menikah dengan salah seorang produser di studio Vivid ini menyatakan bahwa film porno adalah industri yang memberi banyak pengayaan diri pada setiap penontonnya.
Sementara itu, nama Annabelle Chong yang juga keturunan Asia kerap kali disebut-sebut sebagai bintang porno dengan segudang aksi kontroversial. Chong pernah melakukan aksi make love dengan 256 lelaki non-stop dalam kurun waktu 10 jam. Menurut Chong, film porno adalah pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia. “Siapapun pernah melakukan seks, bahkan selalu berganti pasangan. Tapi buat saya seks dan gratis saja kurang, saya juga perlu dibayar dan semua orangpun akan senang,” kata Chong. Akhirnya, Chong yang keturunan Singapura ini menjelma menjadi bintang porno yang cukup kontroversial.
Ternyata, dari negeri ini lahir pula nama Jade Marcella yang cukup dikenal di industri film porno internasional. Jade yang kelahiran Jawa Tengah menjalani karirnya lumayan mulus. Dalam situs fans-nya, Jade mengaku lahir di Tegal dan meninggalkan tanah air pada usia 18 tahun. Debutnya dimulai dua tahun kemudian di sebuah film berjudul Honolulu Bikini. Filmnya yang paling dikenal adalah Sextracurricular dan Color Blind, kabarnya gadis berkulit sawo matang ini kini sudah mulai menapaki jalur studio besar seperti Vivid. “Keinginan saya adalah menyamai popularitas Asia Carerra,” kata Jade. Namun ia secara tegas tidak ingin disamakan dengan icon Asia di industri pornografi itu “Asia punya cirinya sendiri, oriental. Saya datang dari negara dengan ras berkulit sawo matang dan saya sangat bangga karenanya,” tambahnya.
Film Porno di Indonesia
Nama beberapa wanita keturunan Asia ini kian mendunia. Mereka dikenal sebagai bintang terhebat di masanya dan setiap film yang dibintangi selalu menjadi hot issue. Bisa jadi inilah inspirasi yang menyebabkan secara perlahan di Indonesia pun pembuatan film porno telah dimulai.
Namun, jika di Amerika film porno dibuat layaknya proses pembuatan film lainnya, lengkap dengan segala kesiapan pra produksi dan paska produksi. Di Indonesia, film porno dibuat dengan teknologi yang minim. Bahkan tak jarang film-film ini dibuat hanya dengan bermodal handycam dan beberapa kaset video hi-8. Tapi jangan pertanyakan soal keuntungan yang didapat para pedagang VCD. Sekali film buatan Indonesia muncul, jangan harap film bule bisa laku.
Bahkan, masyarakat siap membeli film-film tersebut dengan harga sepuluh kali lipat dari biasanya. Kualitas masing-masing film porno lokal bersifat sangat relatif. Bahkan, beberapa judul film lokal jauh dibawah standar film. Pencahayaannya sangat buruk, dan angle kameranya monoton. Secara kualitas, produksi lokal jelas sangat jauh dibanding dengan produksi asing yang memang sudah ditata sedemikian rupa layaknya sebuah film professional. Namun, kualitas yang minim bahkan tidak jarang dibawah standar ini justru tetap memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Contoh paling fenomenal tentu saja “meledaknya” penjualan film dokumenter Bandung Lautan Asmara. Kini, film terbaru dengan judul Gadis Dago juga mewarnai lapak-lapak pedagang VCD.
Bicara kualitas film porno lokal memang sangat minim. Tapi jangan salah! Peredaran film porno lokal begitu mengguncang pasar. Penjualan film ini jauh melambung dibandingkan film-film terkenal lainnya. Dengan bintang ala kadarnya, yang penting berbahasa Indonesia, film lokal dengan spektakuler menembus pasar perdagangan VCD yang konon merambah hingga ke luar negeri. Jangan-jangan anda pun salah seorang kolektornya. Silahkan jawab sendiri!
Fenomena Film Porno Sebagai Industri
Bisnis di jalur hiburan memang begitu menjanjikan. Di sini semuanya seakan tak pernah redup ditelan waktu. Gelimpang materi dan kepuasan lainnya selalu mewarnai para pelaku yang bergerak di industri ini. Salah satunya adalah bisnis film porno. Di belahan negara tertentu, bisnis ini berkembang menjadi sebuah industri yang cukup pesat.
Oleh: Iwan Suci Jatmiko
Jika ada dihitung secara statistik, maka Amerika terbilang sebagai produsen film porno terbesar di dunia. Di Amerika, produsen film porno tumbuh subur dan terkenal hampir di seluruh penjuru dunia. Sebut saja produsen major label seperti Vivid, Hustler, Sin City atau yang indie label seperti Dogfart dan Bangbus kerap kali mengeluarkan film terbaru mereka hanya dalam yang relatif singkat. Ini karena Amerika dianggap sebagai negara bebas.
Sebenarnya, berjalan jalur ini seperti berada di dunia yang keras dan gelap. Khususnya bagi kaum hawa. Ternyata, bisnis ini juga melibatkan pihak lain yang tentunya berkaitan dengan beragam profesi. Sebuah hierarki yang tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita juga bisa diimplementasikan di bisnis ini. Pasalnya, roda industri film porno juga melibatkan banyak pihak seperti, artis, produser, production house, agen, petugas kesehatan, pengacara, pemerintah, pihak akademik, dan yang utama adalah konsumen, jangan munafik! Mungkin kita salah satunya. Artinya, kita juga bagian dari hierarki itu.
Di negara yang menafsirkan pornografi lebih luas seperti di Amerika, sebenarnya bintang porno termasuk pekerjaan yang lumayan menguntungkan. Bahkan, mereka kerap kali mendapatkan akses dan fasilitas lebih layaknya bintang film umumnya. Selain itu, mereka juga mendatapkan privasi keamanan dan jaminan tertentu. Artinya, profesi bintang porno bukanlah suatu profesi yang layak untuk dilecehkan. Pasalnya, industri film porno setidak-tidaknya mendatangkan pendapatan, retribusi dan pajak untuk negara.
Karakter Pasar
Film porno ternyata juga mempunyai karakter konsumen tersendiri. Dari sekedar adegan bugil, lesbian, homo, anal seks, oral, hingga yang melibatkan alat bantu dan binatang sekalipun ini semuanya tergantung selera. Di Amerika, film yang digemari adalah yang tidak menggunakan kondom. Banyak orang Amerika yang tidak suka melihat film porno yang menggunakan kondom. Begitu pula dengan masyarakat di berbagai negara. Tapi, hal ini tentunya bisa membawa dampak buruk bagi si pemain. Pasalnya, berbagai jenis penyakit kelamin kerap kali mengantui mereka.
Alhasil, belakangan ini muncul himbauan agar para pelaku di bisnis itu mewajibkan penggunaan kondom. Pejabat kesehatan California mengimbau penggunaan kondom dalam setiap adegan intim, termasuk pemeriksaan rutin bagi para pemainnya. Sayangnya, sejumlah produser menolak dengan alasan bakal merusak kualitas film. Salah satu produsen dan studio film porno raksasa Vivid mengaku sudah mewajibkan pengunaan kondom bagi pemainnya selama beberapa tahun belakangan ini. Tapi ternyata hal itu merugikan mereka secara finansial. Akhirnya, kini banyak film-film porno di Amerika yang diproduksi tanpa mengenakan kondom.
Industri film porno di Amerika seharusnya mencontoh Brazil dalam menekan penyebaran penyakit kelamin. Sebagai industri esek-esek terbesar di Amerika Latin, Brazil selalu menekankan kepada artis porno untuk selalu menggunakan kondom. Pemerintah Brazil memang tidak mengharuskan aktor film porno melakukan tes HIV. Tapi, sudah lama mereka mengharuskan menggunakan kondom untuk mencegah aktornya terinfeksi HIV.
Meski industri film porno di Brazil belum diatur dalam undang-undang, namun sebagian besar rumah produksi mengharuskan para aktornya menggunakan kondom. Ini dipandang lebih efektif daripada menjalani tes HIV rutin dengan biaya USD 140 untuk tiap tes. Selain masalah finansial, produser juga takut dituntut oleh aktor apabila mereka terinfeksi HIV saat bekerja.
Industri film porno Brazil memang tak sebesar Amerika. Pendapatannya hanya USD 100 juta per tahun. Tapi Brazil dianggap sebagai yang terbesar di dunia setelah AS, dan terus tumbuh. Industri esek-esek itu berpusat di Sao Paulo, kota terbesar di Brazil. Penjualannya secara bebas dalam bentuk video atau DVD.
Bahkan, banyak sutradara film porno AS memproduksi filmnya di Brazil. Alasannya pun simpel, selain wanita latin yang terkenal eksotis, latar belakang alam tropis yang indah, serta biaya produksi yang sangat murah. Fenomena ini kerap kali membuat Brazil menjadi tujuan utama dalam pembuatan film porno.
Bintang Porno
Film memang tak jauh dengan para bintangnya. Tercatat beberapa nama bintang yang kian mendunia di industri ini. Bahkan, beberapa wanita keturunan Asia pun namanya kian melambung. Ironis memang, budaya timur yang katanya memegang teguh moralitas justru melahirkan bintang-bintang porno sensasional. Kendati demikian, banyak juga bintang bule ataupun negro yang tak kalah terkenalnya.
Rata-rata bintang porno mulai memasuki industri itu di usia yang sangat muda. Faktor utamanya pun klise, dari kebutuhan kebutuhan ekonomi hingga kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis. Bahkan sebagian berasal dari kalangan yang gagal menjadi bintang film yang sebenarnya. Biasanya, mereka juga tidak bisa meninggalkan wilayah itu. Walaupun mereka memutuskan untuk pensiun, tapi mereka kerap kali berada dalam hierarki itu. Misalnya dengan menjadi agen bintang porno, mendirikan rumah produksi porno atau hal-hal lain yang masih berbau mesum. Jarang diantara mereka yang justru eksis di dunia film sungguhan.
Tapi jangan salah! Tidak semua bintang porno berasal dari lingkungan yang gelap. Nama Asia Carera tentu tidak asing lagi di telinga pecinta film porno. Setiap filmnya selalu menjadi incaran para penggemar film porno. Ternyata, gadis seksi nan sensual ini berasal dari keluarga yang bahagia. Bahkan, prestasinya di bidang akademik pun cukup mengagumkan. Menurutnya, menjadi bintang porno adalah merupakan sebuah pilihan. “Saya sangat menyukai pekerjaan saya,” kata Asia seperti dikutip dari situs pribadinya. Bintang yang menikah dengan salah seorang produser di studio Vivid ini menyatakan bahwa film porno adalah industri yang memberi banyak pengayaan diri pada setiap penontonnya.
Sementara itu, nama Annabelle Chong yang juga keturunan Asia kerap kali disebut-sebut sebagai bintang porno dengan segudang aksi kontroversial. Chong pernah melakukan aksi make love dengan 256 lelaki non-stop dalam kurun waktu 10 jam. Menurut Chong, film porno adalah pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia. “Siapapun pernah melakukan seks, bahkan selalu berganti pasangan. Tapi buat saya seks dan gratis saja kurang, saya juga perlu dibayar dan semua orangpun akan senang,” kata Chong. Akhirnya, Chong yang keturunan Singapura ini menjelma menjadi bintang porno yang cukup kontroversial.
Ternyata, dari negeri ini lahir pula nama Jade Marcella yang cukup dikenal di industri film porno internasional. Jade yang kelahiran Jawa Tengah menjalani karirnya lumayan mulus. Dalam situs fans-nya, Jade mengaku lahir di Tegal dan meninggalkan tanah air pada usia 18 tahun. Debutnya dimulai dua tahun kemudian di sebuah film berjudul Honolulu Bikini. Filmnya yang paling dikenal adalah Sextracurricular dan Color Blind, kabarnya gadis berkulit sawo matang ini kini sudah mulai menapaki jalur studio besar seperti Vivid. “Keinginan saya adalah menyamai popularitas Asia Carerra,” kata Jade. Namun ia secara tegas tidak ingin disamakan dengan icon Asia di industri pornografi itu “Asia punya cirinya sendiri, oriental. Saya datang dari negara dengan ras berkulit sawo matang dan saya sangat bangga karenanya,” tambahnya.
Film Porno di Indonesia
Nama beberapa wanita keturunan Asia ini kian mendunia. Mereka dikenal sebagai bintang terhebat di masanya dan setiap film yang dibintangi selalu menjadi hot issue. Bisa jadi inilah inspirasi yang menyebabkan secara perlahan di Indonesia pun pembuatan film porno telah dimulai.
Namun, jika di Amerika film porno dibuat layaknya proses pembuatan film lainnya, lengkap dengan segala kesiapan pra produksi dan paska produksi. Di Indonesia, film porno dibuat dengan teknologi yang minim. Bahkan tak jarang film-film ini dibuat hanya dengan bermodal handycam dan beberapa kaset video hi-8. Tapi jangan pertanyakan soal keuntungan yang didapat para pedagang VCD. Sekali film buatan Indonesia muncul, jangan harap film bule bisa laku.
Bahkan, masyarakat siap membeli film-film tersebut dengan harga sepuluh kali lipat dari biasanya. Kualitas masing-masing film porno lokal bersifat sangat relatif. Bahkan, beberapa judul film lokal jauh dibawah standar film. Pencahayaannya sangat buruk, dan angle kameranya monoton. Secara kualitas, produksi lokal jelas sangat jauh dibanding dengan produksi asing yang memang sudah ditata sedemikian rupa layaknya sebuah film professional. Namun, kualitas yang minim bahkan tidak jarang dibawah standar ini justru tetap memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Contoh paling fenomenal tentu saja “meledaknya” penjualan film dokumenter Bandung Lautan Asmara. Kini, film terbaru dengan judul Gadis Dago juga mewarnai lapak-lapak pedagang VCD.
Bicara kualitas film porno lokal memang sangat minim. Tapi jangan salah! Peredaran film porno lokal begitu mengguncang pasar. Penjualan film ini jauh melambung dibandingkan film-film terkenal lainnya. Dengan bintang ala kadarnya, yang penting berbahasa Indonesia, film lokal dengan spektakuler menembus pasar perdagangan VCD yang konon merambah hingga ke luar negeri. Jangan-jangan anda pun salah seorang kolektornya. Silahkan jawab sendiri!
Groupies, Nakal Tapi Menggoda
Groupies, Nakal Tapi Menggoda
Saat itu, sebuah band asal luar negeri tampil di Jakarta. Kehadiran mereka memang ditunggu-tunggu penggemarnya yang mayoritas remaja ABG khususnya wanita. Di awal konser, mereka selalu menyambut hangat penggemarnya. Ribuan penonton yang hadir pun tak kuasa menahan emosinya. Mayoritas dari mereka seraya menjerit histeris melihat personil band pujaan mereka beraksi.
Di tengah konser, benda-benda aneh pun melayang dan mendarat di atas panggung. Mulai dari setangkai bunga, handuk, ikat rambut, kaus kaki, hingga pakaian dalam seperti bra dan celana dalam. “Aksi lempar” ini merupakan pemandangan biasa dalam sebuah konser. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang jatuh pingsan ketika “barang lemparan” mereka disentuh atau diraih sang pujaan.
Biasanya, aksi ini kerap kali dilakukan oleh penggila atau penggemar berat suatu band atau artis tertentu. Mereka akrab dengan sebutan groupies. Sebenarnya, fenomena groupies ini telah terjadi puluhan tahun lalu. Groupies memang sebuah gejala yang terjadi hampir di seluruh dunia. Nakal tapi menggoda!
Di luar negeri, groupies memang menjadi bagian dari sebuah konser atau tur dari band raksasa. Bahkan, tidak harus menjadi band raksasa, banyak juga dari band-band tanggung yang sukses menjaring groupies yang tidak sedikit. Ini memang bagian dari gaya hidup musisi luar negeri. Bahkan, tidak sedikit dari band-band besar yang selalu berpesta dengan groupies usai konser atau dalam rangka tur mereka. Namun, bukan sembarang pesta, mereka kerap kali melakukan pesta narkoba dan seks bebas.
Beberapa musisi luar negeri yang “akrab” dengan groupies adalah Rolling Stones, kemudian Aerosmith. Bahkan, Steven Tyler sang vokalis sempat memiliki seorang puteri dari groupies yang kini menjadi bintang sukses di Hollywood, Liv Tyler. Lucunya, Liv Tyler pun dianggap sebagai groupies juga. Pasalnya, Liv begitu mengidolakan vokalis Rolling Stones, Mick Jagger. Bahkan, banyak isu miring seputar kedekatan Liv dengan Jagger.
Groupies di Indonesia
Groupies di luar negeri adalah hal yang biasa. Lantas, bagaimana di Indonesia? Fenomena yang terjadi juga sama saja. Generasi groupies tumbuh sumbur dan kerap berganti tiap dekade. Meski eksistensi groupies di Indonesia belum separah di luar negeri, tapi fenomena ini seakan tak pernah hilang ditelan waktu.
Bukan rahasia lagi bahwa groupies identik dengan seks. Stigma anak band yang selalu melakukan hubungan dengan penggemarnya adalah anggapan biasa. Hubungan emosional ini sama halnya seperti hubungan laki-laki dan perempuan yang mengidolakannya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang rela menanggalkan bajunya dan jatuh ke pelukan musisi atau artis pujaannya.
Mereka secara suka rela diajak tidur, namun belum jelas apa sebenarnya status mereka di mata sang musisi. Anehnya, ketika mereka berhasil tidur dengan sang musisi, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri kepada teman-temannya atau sesama groupies. Seolah-olah, mereka telah berhasil mencapai titik klimaks sebagai seorang groupies.
Tidur dengan sang musisi pujaan memang bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, mereka juga harus bersaing dengan groupies lainnya yang tentunya memiliki kelebihan sebagai seorang wanita. Alhasil, rasa bangga seakan mengalir di adrenalin saat mereka terbangun di sebuah ranjang dengan sang musisi pujaaannya.
Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan fenomena ini justru terjadi sebaliknya. Ada juga laki-laki yang mengidolakan musisi atau artis perempuan dan terobsesi untuk bercinta dengan sang artis.
Antara Groupies dan Fans
Aksi para penggemar memang sungguh tak terduga. Tapi, jangan salah! Ada benang merah antara penggemar biasa atau fans dengan penggemar berat atau groupies. Aksi groupis ini terkesan main seruduk. Tiap acara jumpa fans pertanyaan mereka terkesan aneh dan menjurus. Sikap mereka selalu agresif dan isyarat untuk meniduri mereka terlihat jelas. Berbeda dengan para fans yang terkesan malu-malu. Biasanya, fans cukup puas dengan tanda tangan dan sekedar bersalaman.
Sering kali tindakan kaum groupies ini lebih nekat ketimbang fans biasa. Biasanya, para fans hanya melambaikan tangan dan menunggu dengan setia di sekitar kamar hotel tempat sang musisi menginap. Ada juga dari mereka yang membawa atribut atau bahkan spanduk yang ditujukan bagi artis kesayangannya. Berbeda dengan kaum groupies, tidak sedikit dari mereka yang berusaha masuk ke hotel dan berakhir di ranjang bersama sang artis.
Keamanan hotel yang ketat bukanlah masalah jika sang musisi atau artis memang menginginkannya. Jadi, aksi ini sama sekali bukan beli kucing dalam karung. Pasalnya, sang musisi atau artis tahu benar kemolekan groupies yang mengidolakannya. Alhasil, sang artis tinggal tunjuk saja dan sesaat kemudian terserah mau diapakan groupies pilihannya itu. Dari cuma sekedar mandi kucing hingga Making Love pun bisa saja terjadi di kamar hotel itu.
Meski belum jelas kategori dan definisinya, namun kehadiran groupies di dunia hiburan memang tidak bisa disangkal lagi. Bila tak ada groupies, maka dunia hiburan bagai sayur tanpa garam. Groupies dianggap memberikan kenikmatan tersendiri bagi sebagian kalangan. Mereka seperti doping bagi sebagian musisi atau artis. Maklum, ketatnya jadwal konser atau tur tentu memberikan tekanan tersediri. Alhasil, sebagian musisi atau artis gemar sekali menyantap groupies sebagai sarana pembangkit energi mereka.
Tapi, untuk menyingkapi hal ini diperlukan hati bersih dan sikap yang lebih bijaksana. Alangkah tidak adil bila kita menuduh semua band atau artis adalah pelanggan tetap groupies. Banyak juga dari mereka yang masih menjunjung tinggi moralitas dan idealisme budaya timur. Beberapa dari mereka ada juga yang memilih untuk berdiam diri di kamar dan mencari kesibukan lainnya. Bahkan, ada juga yang mengajak kekasihnya atau anggota keluarga mereka, misalnya, isteri dan anak. Maklum, biasanya sebuah tur memakan waktu yang tidak sebentar.
Namun, secercah kebenaran akan fenomena groupies selalu ada. Pasalnya, groupies selalu memberikan sensasi pengalaman tersendiri bagi band tanggung yang melakukan tur. Bukan hanya itu, musisi yang sudah berkeluarga pun banyak yang terjebak dalam perangkap cinta sesaat bersama groupies. Akumulasi kejenuhan akibat jadwal tur yang padat menjadikan mereka lupa diri. Pasalnya, aspirasi di bawah perut mereka juga harus disalurkan. Jika isteri atau kekasih berada jauh di seberang sana, maka groupies adalah alternatif yang menggiurkan.
Kisah groupies ini semakin hangat ketika Ariel, vokalis Peter Pan marak diberitakan infotainment karena menghamili kekasihnya. Namun, pria yang sedang naik daun ini pun berjanji akan bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. Sebelumnya, tercatat beberapa musisi yang menikahi penggemarnya. Bahkan, diantaranya terpaut perbedaan usia yang lumayan jauh. Namun, yang jadi persoalan apakah mereka menikahi groupies atau fans? Dengan dalih cinta sejati mereka berusaha meyakinkan publik bahwa hubungan mereka memang berlandaskan cinta yang datangnya murni dari hati. Benarkah? Hanya mereka yang bisa menjawab. Setidaknya keputusan mereka patut dihargai dan biarkan masyarakat yang menilainya.
Saat itu, sebuah band asal luar negeri tampil di Jakarta. Kehadiran mereka memang ditunggu-tunggu penggemarnya yang mayoritas remaja ABG khususnya wanita. Di awal konser, mereka selalu menyambut hangat penggemarnya. Ribuan penonton yang hadir pun tak kuasa menahan emosinya. Mayoritas dari mereka seraya menjerit histeris melihat personil band pujaan mereka beraksi.
Di tengah konser, benda-benda aneh pun melayang dan mendarat di atas panggung. Mulai dari setangkai bunga, handuk, ikat rambut, kaus kaki, hingga pakaian dalam seperti bra dan celana dalam. “Aksi lempar” ini merupakan pemandangan biasa dalam sebuah konser. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang jatuh pingsan ketika “barang lemparan” mereka disentuh atau diraih sang pujaan.
Biasanya, aksi ini kerap kali dilakukan oleh penggila atau penggemar berat suatu band atau artis tertentu. Mereka akrab dengan sebutan groupies. Sebenarnya, fenomena groupies ini telah terjadi puluhan tahun lalu. Groupies memang sebuah gejala yang terjadi hampir di seluruh dunia. Nakal tapi menggoda!
Di luar negeri, groupies memang menjadi bagian dari sebuah konser atau tur dari band raksasa. Bahkan, tidak harus menjadi band raksasa, banyak juga dari band-band tanggung yang sukses menjaring groupies yang tidak sedikit. Ini memang bagian dari gaya hidup musisi luar negeri. Bahkan, tidak sedikit dari band-band besar yang selalu berpesta dengan groupies usai konser atau dalam rangka tur mereka. Namun, bukan sembarang pesta, mereka kerap kali melakukan pesta narkoba dan seks bebas.
Beberapa musisi luar negeri yang “akrab” dengan groupies adalah Rolling Stones, kemudian Aerosmith. Bahkan, Steven Tyler sang vokalis sempat memiliki seorang puteri dari groupies yang kini menjadi bintang sukses di Hollywood, Liv Tyler. Lucunya, Liv Tyler pun dianggap sebagai groupies juga. Pasalnya, Liv begitu mengidolakan vokalis Rolling Stones, Mick Jagger. Bahkan, banyak isu miring seputar kedekatan Liv dengan Jagger.
Groupies di Indonesia
Groupies di luar negeri adalah hal yang biasa. Lantas, bagaimana di Indonesia? Fenomena yang terjadi juga sama saja. Generasi groupies tumbuh sumbur dan kerap berganti tiap dekade. Meski eksistensi groupies di Indonesia belum separah di luar negeri, tapi fenomena ini seakan tak pernah hilang ditelan waktu.
Bukan rahasia lagi bahwa groupies identik dengan seks. Stigma anak band yang selalu melakukan hubungan dengan penggemarnya adalah anggapan biasa. Hubungan emosional ini sama halnya seperti hubungan laki-laki dan perempuan yang mengidolakannya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang rela menanggalkan bajunya dan jatuh ke pelukan musisi atau artis pujaannya.
Mereka secara suka rela diajak tidur, namun belum jelas apa sebenarnya status mereka di mata sang musisi. Anehnya, ketika mereka berhasil tidur dengan sang musisi, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri kepada teman-temannya atau sesama groupies. Seolah-olah, mereka telah berhasil mencapai titik klimaks sebagai seorang groupies.
Tidur dengan sang musisi pujaan memang bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, mereka juga harus bersaing dengan groupies lainnya yang tentunya memiliki kelebihan sebagai seorang wanita. Alhasil, rasa bangga seakan mengalir di adrenalin saat mereka terbangun di sebuah ranjang dengan sang musisi pujaaannya.
Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan fenomena ini justru terjadi sebaliknya. Ada juga laki-laki yang mengidolakan musisi atau artis perempuan dan terobsesi untuk bercinta dengan sang artis.
Antara Groupies dan Fans
Aksi para penggemar memang sungguh tak terduga. Tapi, jangan salah! Ada benang merah antara penggemar biasa atau fans dengan penggemar berat atau groupies. Aksi groupis ini terkesan main seruduk. Tiap acara jumpa fans pertanyaan mereka terkesan aneh dan menjurus. Sikap mereka selalu agresif dan isyarat untuk meniduri mereka terlihat jelas. Berbeda dengan para fans yang terkesan malu-malu. Biasanya, fans cukup puas dengan tanda tangan dan sekedar bersalaman.
Sering kali tindakan kaum groupies ini lebih nekat ketimbang fans biasa. Biasanya, para fans hanya melambaikan tangan dan menunggu dengan setia di sekitar kamar hotel tempat sang musisi menginap. Ada juga dari mereka yang membawa atribut atau bahkan spanduk yang ditujukan bagi artis kesayangannya. Berbeda dengan kaum groupies, tidak sedikit dari mereka yang berusaha masuk ke hotel dan berakhir di ranjang bersama sang artis.
Keamanan hotel yang ketat bukanlah masalah jika sang musisi atau artis memang menginginkannya. Jadi, aksi ini sama sekali bukan beli kucing dalam karung. Pasalnya, sang musisi atau artis tahu benar kemolekan groupies yang mengidolakannya. Alhasil, sang artis tinggal tunjuk saja dan sesaat kemudian terserah mau diapakan groupies pilihannya itu. Dari cuma sekedar mandi kucing hingga Making Love pun bisa saja terjadi di kamar hotel itu.
Meski belum jelas kategori dan definisinya, namun kehadiran groupies di dunia hiburan memang tidak bisa disangkal lagi. Bila tak ada groupies, maka dunia hiburan bagai sayur tanpa garam. Groupies dianggap memberikan kenikmatan tersendiri bagi sebagian kalangan. Mereka seperti doping bagi sebagian musisi atau artis. Maklum, ketatnya jadwal konser atau tur tentu memberikan tekanan tersediri. Alhasil, sebagian musisi atau artis gemar sekali menyantap groupies sebagai sarana pembangkit energi mereka.
Tapi, untuk menyingkapi hal ini diperlukan hati bersih dan sikap yang lebih bijaksana. Alangkah tidak adil bila kita menuduh semua band atau artis adalah pelanggan tetap groupies. Banyak juga dari mereka yang masih menjunjung tinggi moralitas dan idealisme budaya timur. Beberapa dari mereka ada juga yang memilih untuk berdiam diri di kamar dan mencari kesibukan lainnya. Bahkan, ada juga yang mengajak kekasihnya atau anggota keluarga mereka, misalnya, isteri dan anak. Maklum, biasanya sebuah tur memakan waktu yang tidak sebentar.
Namun, secercah kebenaran akan fenomena groupies selalu ada. Pasalnya, groupies selalu memberikan sensasi pengalaman tersendiri bagi band tanggung yang melakukan tur. Bukan hanya itu, musisi yang sudah berkeluarga pun banyak yang terjebak dalam perangkap cinta sesaat bersama groupies. Akumulasi kejenuhan akibat jadwal tur yang padat menjadikan mereka lupa diri. Pasalnya, aspirasi di bawah perut mereka juga harus disalurkan. Jika isteri atau kekasih berada jauh di seberang sana, maka groupies adalah alternatif yang menggiurkan.
Kisah groupies ini semakin hangat ketika Ariel, vokalis Peter Pan marak diberitakan infotainment karena menghamili kekasihnya. Namun, pria yang sedang naik daun ini pun berjanji akan bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. Sebelumnya, tercatat beberapa musisi yang menikahi penggemarnya. Bahkan, diantaranya terpaut perbedaan usia yang lumayan jauh. Namun, yang jadi persoalan apakah mereka menikahi groupies atau fans? Dengan dalih cinta sejati mereka berusaha meyakinkan publik bahwa hubungan mereka memang berlandaskan cinta yang datangnya murni dari hati. Benarkah? Hanya mereka yang bisa menjawab. Setidaknya keputusan mereka patut dihargai dan biarkan masyarakat yang menilainya.
Pengaruh Jimi Hendrix dalam Peta Musik Rock
Pengaruh Jimi Hendrix dalam Peta Musik Rock
Siapa yang tak kenal Jimi Hendrix, pria kribo dengan nama lengkap James Marshall Hendrix. Ia telah meninggal 35 tahun silam, tepatnya 18 September 1970. Gitaris negro asal Seattle, Amerika Serikat ini memang fenomenal. Karir Jimi terbilang singkat, yaitu sekitar empat tahun. Namun, namanya begitu melegenda dan tak pernah hilang dimakan waktu.
oleh: Iwan Suci Jatmiko
Karir Jimi memang merupakan sensasi tersendiri dalam dunia musik rock. Bahkan, ada anggapan bahwa bila tak ada Jimi maka tak ada musik Heavy Metal. Anggapan ini memang tidak berlebihan. Pasalnya, fenomena yang terlihat dari musisi era 70-an hingga masa kini hampir semuanya berkiblat atau pernah terinspirasi oleh Jimi.
Bagi gitaris sejati, aksi solo adalah puncak dari seluruh barisan notasi lagu. Aksi solo yang sempurna merupakan ungkapan jiwa seorang musisi. Untaian notasi yang diciptakan harus mewakili ekspresi dari perpaduan rasa, nada, dan teknik.
Jemari seorang gitaris handal seakan menari di antara dawai gitar. Hasilnya, jemari mereka melahirkan notasi yang mampu menyihir siapa saja yang mendengar untuk larut dalam nada. Seperti halnya “Making Love”, aksi solo juga menawarkan sensasi tersendiri. Stimulasi yang tercipta saat melakukan solo begitu kuat mengalir dalam adrenalin. Alhasil, notasi demi notasi yang dihasilkan merupakan luapan dari “orgasme nada” sang gitaris.
Kalau Michael Jackson terkenal dengan tarian eksentriknya, Inul dengan goyang nge-bornya,maka Jimi mencuat dari permainan gitarnya yang kontroversial. Jika kini banyak gitaris metal menggigit dawai gitar, menghantam gitar ke sound system, bisa jadi hal ini sudah ketinggalan zaman. Pasalnya, Jimi telah melakukan hal tersebut sejak puluhan tahun silam. Bahkan yang lebih gila lagi Jimi punya jurus pamungkas “Roast the Fender”. Yaitu aksi membakar gitar Fender miliknya. Gaya agresif Jimi sempat membuatnya celaka. Waktu ia membakar gitarnya, tangannya ikutan terbakar. Ia pun dilarikan ke rumah sakit. Aksi spektakuler ini pertama kali dilakukan Jimi di Finsbury Park Astoria, London. Akibatnya, manajer tempat itu bersumpah tak akan mengizinkan Jimi untuk tampil di sana lagi.
Sebagian besar orang mengenal Jimi sebagai gitaris kidal. Namun, anggapan itu sebenarnya salah.Gitar adalah isteri kedua Jimi, bahkan ia bisa bermain baik dengan tangan kanan atau tangan kiri. Di tangan Jimi, gitar tak cuma disandang di bahu. Kadang Jimi menaruh gitar Fender miliknya di lantai panggung dan jarinya mulai memetik dawai gitar seperti kerasukan setan.
Kini banyak gitaris era baru yang berpatokan dengan teknik dan kecepatan. Belum lagi efek suara elektrik yang mulai mendominasi aksi solonya. Padahal, itu bisa saja mengurangi orisinalitas dari gaya permainannya. Jika ditelaah lebih jauh, sebagian besar aksi solo gitaris berasal dari jiwa. Teknik dan kecepatan bukanlah segalanya. Mereka kerap kali mengeksplorasi nada dari ungkapan rasa di dalam hati. Biasanya, fenomena ini terlihat di gitaris yang mempunyai latar belakang musik Blues. Maklum, Blues diyakini sebagai musik yang terlahir dari kesedihan jiwa seseorang.
Musik yang Jenius
Jimi bisa dibilang sebagai gitaris sejati yang begitu brilian. Kejeniusannya dalam bermusik melahirkan sebuah genre rock yang fenomenal. Jika Jimi masih hidup, maka ia layak menyandang gelar profesor atas eksperimen musik yang ia ciptakan. Siapa yang berani bilang kalau Purple Haze, Hey Joe, Little Wings, Manic Depression, The Wind Cries Mary dan tembang milik Jimi lainnya itu cuma lagu biasa saja. Tembang milik Jimi seakan tak hanyut ditelan waktu.
Jimi bukan hanya seorang musisi yang ikut meramaikan blantika musik metal. Bahkan, Jimi dianggap sebagai tonggak berdirinya musik rock. Eksperimen suara yang dilakukan Jimi dengan gitar serta instrumen elektrik menghasilkan pertunjukkan sensasional. Gaya atraktifnya menciptakan sebuah fenomena yang maha dahsyat hingga diikuti oleh hampir seluruh gitaris di penjuru dunia.
Jimi berhasil membuka gerbang musik rock dan menyebar benih yang berpotensi untuk berevolusi di kemudian hari. Seni pertunjukkan yang dilakukan Jimi begitu melibatkan emosional penonton. Jimi mampu menaklukan ribuan penonton dengan gaya dan nada hasil eksperimennya. Sebuah warisan yang begitu inovatif.
Eksplorasi musik yang dilakukan Jimi sekitar tahun 1960-an, juga dilakukan beberapa musisi rock lainnya. Misalnya Eric Clapton yang menghasilkan warna musik rock dipadupadakan dengan sentuhan Blues. Jeff Beck juga melakukan hal yang sama dengan menambah sedikit sentuhan Rock and Roll. Mereka menyumbangkan bentuk musik rock yang berbeda pada umumnya. Warna musik mereka lebih berkarakter dengan komposisi bass dan dentuman drum yang lebih keras. Ditambah dengan efek distorsi gitar yang agresif dan meledak-ledak.
Akhirnya, sekitar awal 1970-an mulai bermunculan band rock terkemuka seperti Led Zeppelin, Deep Purple, dan Black Sabbath. Jenis musik mereka terkesan lebih kental dan jelas terhadap eksplorasi musik dari Jimi Hendrix. Komposisi musik mereka sarat dengan riff dan chords yang bertenaga. Efek distorsi gitar bisa lebih agresif, serta aksi drum dan gitar solo yang panjang disertai lirik yang berbau mistis. Jenis musik ini kemudian dikenal dengan nama Heavy Metal. Akhirnya, seiring perkembangan zaman, sekitar dekade 1980-an jenis musik ini mulai berevolusi. Berbagai aliran mulai bermuculan di dalamnya, seperti Thrash Metal, Speed Metal, Grind Core, Hard Core, Death Metal, dan sebagainya. Sungguh perjalanan musik yang mengagumkan.
Jimi bisa dibilang sebagai Einstein bagi publik rock. Ia menciptakan benih yang akhirnya tumbuh subur di jiwa musisi rock generasi berikutnya. Sebuah teori musik berhasil ia ciptakan dan mampu menembus raga musisi rock di seluruh dunia. Prinsipnya berkembang di kemudian hari bahwa musisi rock tak hanya berpedoman dengan teknis belaka. Eksploitasi diri dan segudang keahlian harus dimiliki bagi seorang gitaris yang juga entertainer sejati.
Inovasi Jimi memang spektakuler dan mampu menembus jeruji penghalang antara berbagai karakter musik. Jimi berhasil melintasi batasan alur musik yang saat itu jelas kentara. Salah satu terobosan Jimi adalah saat Jimi membawakan Star Spangled Banner di Woodstock Festival tahun 1969. Ia berhasil membawakan lagu kebangsaan Amerika itu sesuai dengan karakter dirinya.
Sejarah Singkat Jimi Hendrix
Karir Jimi memang pendek. Bahkan, Jimi meninggal di usia yang relatif muda – 28 tahun. Jimi lahir di King Country Hospital, Seattle, Washington, 27 November 1942 dengan nama Johnny Allen Hendricks. Ia putra sulung pasangan James Allen Hendrix dan Lucille, seorang Indian Cherokee. Nama itu merupakan pemberian ibunya, yang kemudian diubah oleh sang ayah menjadi James Marshall Hendrix pada saat Jimi berusia 4 tahun.
Jimi tak pernah mengenyam pendidikan musik secara formal. Ia belajar memainkan gitar secara otodidak dengan mendengar lagu-lagu dari piringan hitam dan melihat permainan orang lain. Musisi yang disukainya saat itu antara lain, B.B. King dan Muddy Waters. Ia juga jatuh cinta dengan warna musik Bob Dylan. Bahkan, All Along The Watchtower sebuah karangan Bob Dylan yang kemudian menjadi salah satu lagu paling terkenal Jimi. Pengaruh Bob Dylan inilah yang membuat Jimi berbeda dengan musisi kulit hitam lainnya pada saat itu.
Karir Jimi berawal saat aksinya dipergoki Chas Chandler mantan pemain bass grup The Animal. Chandler begitu terpukau dengan permainan Jimi dan akhirnya membuka jalan bagi Jimi untuk mewujudkan cita-citanya. Chandler menjadi manajer Jimi dan langsung memboyong Jimi ke Inggris. Sesampainya di London, mereka membentuk sebuah band bernama The Jimi Hendrix Experience (JHE). Band ini diperkuat oleh Noel Redding (Bass) dan Mitch Mitchell (Drum). Akhirnya, terciptalah maha karya mereka berupa album pertama yang bertajuk Are You Experience?.
Karir Jimi pun mulai meroket. Jimi berhasil menaklukan publik rock di Inggris dan kampung halamannya, Amerika Serikat. Beberapa album dan serangkaian tur mewarnai kehidupan Jimi saat itu. Namun, dibalik kesuksesannya menjadi seorang superstar, ia harus menyerah pada kebiasaan buruknya. Jimi mulai akrab dengan obat bius, narkotika dan minuman keras.
Alhasil, berbagai konflik pun timbul. Pengerjaan album The Electric Ladyland selalu diwarnai pertengkaran. Jimi tak mau mendengarkan saran dari orang lain. Bahkan, karena merasa tak dianggap lagi, akhirnya Chas Chandler mengundurkan diri sebagai manajer The Jimi Hendrix Experience (JHE). Para personil JHE pun mulai tak sanggup mengikuti kehidupan tur mereka yang meletihkan.
Puncaknya, Jimi ditemukan pingsan di sebuah kamar teman wanitanya. Walau segera dibawa ke Rumah Sakit St. Mary Abbot, namun Jimi meninggal setibanya di rumah sakit itu. Menurut keterangan pihak rumah sakit, Jimi meninggal akibat pernafasannya tersumbat oleh muntahnya sendiri. Kendati demikian, banyak orang yang meragukan keterangan itu. Banyak anggapan bahwa ini meninggal akibat kelebihan dosin obat tidur. Apapun asumsi orang, yang jelas dunia telah kehilangan gitaris handal yang hingga kini raungan gitarnya masih lekat di telinga pecinta rock di seluruh dunia.
Siapa yang tak kenal Jimi Hendrix, pria kribo dengan nama lengkap James Marshall Hendrix. Ia telah meninggal 35 tahun silam, tepatnya 18 September 1970. Gitaris negro asal Seattle, Amerika Serikat ini memang fenomenal. Karir Jimi terbilang singkat, yaitu sekitar empat tahun. Namun, namanya begitu melegenda dan tak pernah hilang dimakan waktu.
oleh: Iwan Suci Jatmiko
Karir Jimi memang merupakan sensasi tersendiri dalam dunia musik rock. Bahkan, ada anggapan bahwa bila tak ada Jimi maka tak ada musik Heavy Metal. Anggapan ini memang tidak berlebihan. Pasalnya, fenomena yang terlihat dari musisi era 70-an hingga masa kini hampir semuanya berkiblat atau pernah terinspirasi oleh Jimi.
Bagi gitaris sejati, aksi solo adalah puncak dari seluruh barisan notasi lagu. Aksi solo yang sempurna merupakan ungkapan jiwa seorang musisi. Untaian notasi yang diciptakan harus mewakili ekspresi dari perpaduan rasa, nada, dan teknik.
Jemari seorang gitaris handal seakan menari di antara dawai gitar. Hasilnya, jemari mereka melahirkan notasi yang mampu menyihir siapa saja yang mendengar untuk larut dalam nada. Seperti halnya “Making Love”, aksi solo juga menawarkan sensasi tersendiri. Stimulasi yang tercipta saat melakukan solo begitu kuat mengalir dalam adrenalin. Alhasil, notasi demi notasi yang dihasilkan merupakan luapan dari “orgasme nada” sang gitaris.
Kalau Michael Jackson terkenal dengan tarian eksentriknya, Inul dengan goyang nge-bornya,maka Jimi mencuat dari permainan gitarnya yang kontroversial. Jika kini banyak gitaris metal menggigit dawai gitar, menghantam gitar ke sound system, bisa jadi hal ini sudah ketinggalan zaman. Pasalnya, Jimi telah melakukan hal tersebut sejak puluhan tahun silam. Bahkan yang lebih gila lagi Jimi punya jurus pamungkas “Roast the Fender”. Yaitu aksi membakar gitar Fender miliknya. Gaya agresif Jimi sempat membuatnya celaka. Waktu ia membakar gitarnya, tangannya ikutan terbakar. Ia pun dilarikan ke rumah sakit. Aksi spektakuler ini pertama kali dilakukan Jimi di Finsbury Park Astoria, London. Akibatnya, manajer tempat itu bersumpah tak akan mengizinkan Jimi untuk tampil di sana lagi.
Sebagian besar orang mengenal Jimi sebagai gitaris kidal. Namun, anggapan itu sebenarnya salah.Gitar adalah isteri kedua Jimi, bahkan ia bisa bermain baik dengan tangan kanan atau tangan kiri. Di tangan Jimi, gitar tak cuma disandang di bahu. Kadang Jimi menaruh gitar Fender miliknya di lantai panggung dan jarinya mulai memetik dawai gitar seperti kerasukan setan.
Kini banyak gitaris era baru yang berpatokan dengan teknik dan kecepatan. Belum lagi efek suara elektrik yang mulai mendominasi aksi solonya. Padahal, itu bisa saja mengurangi orisinalitas dari gaya permainannya. Jika ditelaah lebih jauh, sebagian besar aksi solo gitaris berasal dari jiwa. Teknik dan kecepatan bukanlah segalanya. Mereka kerap kali mengeksplorasi nada dari ungkapan rasa di dalam hati. Biasanya, fenomena ini terlihat di gitaris yang mempunyai latar belakang musik Blues. Maklum, Blues diyakini sebagai musik yang terlahir dari kesedihan jiwa seseorang.
Musik yang Jenius
Jimi bisa dibilang sebagai gitaris sejati yang begitu brilian. Kejeniusannya dalam bermusik melahirkan sebuah genre rock yang fenomenal. Jika Jimi masih hidup, maka ia layak menyandang gelar profesor atas eksperimen musik yang ia ciptakan. Siapa yang berani bilang kalau Purple Haze, Hey Joe, Little Wings, Manic Depression, The Wind Cries Mary dan tembang milik Jimi lainnya itu cuma lagu biasa saja. Tembang milik Jimi seakan tak hanyut ditelan waktu.
Jimi bukan hanya seorang musisi yang ikut meramaikan blantika musik metal. Bahkan, Jimi dianggap sebagai tonggak berdirinya musik rock. Eksperimen suara yang dilakukan Jimi dengan gitar serta instrumen elektrik menghasilkan pertunjukkan sensasional. Gaya atraktifnya menciptakan sebuah fenomena yang maha dahsyat hingga diikuti oleh hampir seluruh gitaris di penjuru dunia.
Jimi berhasil membuka gerbang musik rock dan menyebar benih yang berpotensi untuk berevolusi di kemudian hari. Seni pertunjukkan yang dilakukan Jimi begitu melibatkan emosional penonton. Jimi mampu menaklukan ribuan penonton dengan gaya dan nada hasil eksperimennya. Sebuah warisan yang begitu inovatif.
Eksplorasi musik yang dilakukan Jimi sekitar tahun 1960-an, juga dilakukan beberapa musisi rock lainnya. Misalnya Eric Clapton yang menghasilkan warna musik rock dipadupadakan dengan sentuhan Blues. Jeff Beck juga melakukan hal yang sama dengan menambah sedikit sentuhan Rock and Roll. Mereka menyumbangkan bentuk musik rock yang berbeda pada umumnya. Warna musik mereka lebih berkarakter dengan komposisi bass dan dentuman drum yang lebih keras. Ditambah dengan efek distorsi gitar yang agresif dan meledak-ledak.
Akhirnya, sekitar awal 1970-an mulai bermunculan band rock terkemuka seperti Led Zeppelin, Deep Purple, dan Black Sabbath. Jenis musik mereka terkesan lebih kental dan jelas terhadap eksplorasi musik dari Jimi Hendrix. Komposisi musik mereka sarat dengan riff dan chords yang bertenaga. Efek distorsi gitar bisa lebih agresif, serta aksi drum dan gitar solo yang panjang disertai lirik yang berbau mistis. Jenis musik ini kemudian dikenal dengan nama Heavy Metal. Akhirnya, seiring perkembangan zaman, sekitar dekade 1980-an jenis musik ini mulai berevolusi. Berbagai aliran mulai bermuculan di dalamnya, seperti Thrash Metal, Speed Metal, Grind Core, Hard Core, Death Metal, dan sebagainya. Sungguh perjalanan musik yang mengagumkan.
Jimi bisa dibilang sebagai Einstein bagi publik rock. Ia menciptakan benih yang akhirnya tumbuh subur di jiwa musisi rock generasi berikutnya. Sebuah teori musik berhasil ia ciptakan dan mampu menembus raga musisi rock di seluruh dunia. Prinsipnya berkembang di kemudian hari bahwa musisi rock tak hanya berpedoman dengan teknis belaka. Eksploitasi diri dan segudang keahlian harus dimiliki bagi seorang gitaris yang juga entertainer sejati.
Inovasi Jimi memang spektakuler dan mampu menembus jeruji penghalang antara berbagai karakter musik. Jimi berhasil melintasi batasan alur musik yang saat itu jelas kentara. Salah satu terobosan Jimi adalah saat Jimi membawakan Star Spangled Banner di Woodstock Festival tahun 1969. Ia berhasil membawakan lagu kebangsaan Amerika itu sesuai dengan karakter dirinya.
Sejarah Singkat Jimi Hendrix
Karir Jimi memang pendek. Bahkan, Jimi meninggal di usia yang relatif muda – 28 tahun. Jimi lahir di King Country Hospital, Seattle, Washington, 27 November 1942 dengan nama Johnny Allen Hendricks. Ia putra sulung pasangan James Allen Hendrix dan Lucille, seorang Indian Cherokee. Nama itu merupakan pemberian ibunya, yang kemudian diubah oleh sang ayah menjadi James Marshall Hendrix pada saat Jimi berusia 4 tahun.
Jimi tak pernah mengenyam pendidikan musik secara formal. Ia belajar memainkan gitar secara otodidak dengan mendengar lagu-lagu dari piringan hitam dan melihat permainan orang lain. Musisi yang disukainya saat itu antara lain, B.B. King dan Muddy Waters. Ia juga jatuh cinta dengan warna musik Bob Dylan. Bahkan, All Along The Watchtower sebuah karangan Bob Dylan yang kemudian menjadi salah satu lagu paling terkenal Jimi. Pengaruh Bob Dylan inilah yang membuat Jimi berbeda dengan musisi kulit hitam lainnya pada saat itu.
Karir Jimi berawal saat aksinya dipergoki Chas Chandler mantan pemain bass grup The Animal. Chandler begitu terpukau dengan permainan Jimi dan akhirnya membuka jalan bagi Jimi untuk mewujudkan cita-citanya. Chandler menjadi manajer Jimi dan langsung memboyong Jimi ke Inggris. Sesampainya di London, mereka membentuk sebuah band bernama The Jimi Hendrix Experience (JHE). Band ini diperkuat oleh Noel Redding (Bass) dan Mitch Mitchell (Drum). Akhirnya, terciptalah maha karya mereka berupa album pertama yang bertajuk Are You Experience?.
Karir Jimi pun mulai meroket. Jimi berhasil menaklukan publik rock di Inggris dan kampung halamannya, Amerika Serikat. Beberapa album dan serangkaian tur mewarnai kehidupan Jimi saat itu. Namun, dibalik kesuksesannya menjadi seorang superstar, ia harus menyerah pada kebiasaan buruknya. Jimi mulai akrab dengan obat bius, narkotika dan minuman keras.
Alhasil, berbagai konflik pun timbul. Pengerjaan album The Electric Ladyland selalu diwarnai pertengkaran. Jimi tak mau mendengarkan saran dari orang lain. Bahkan, karena merasa tak dianggap lagi, akhirnya Chas Chandler mengundurkan diri sebagai manajer The Jimi Hendrix Experience (JHE). Para personil JHE pun mulai tak sanggup mengikuti kehidupan tur mereka yang meletihkan.
Puncaknya, Jimi ditemukan pingsan di sebuah kamar teman wanitanya. Walau segera dibawa ke Rumah Sakit St. Mary Abbot, namun Jimi meninggal setibanya di rumah sakit itu. Menurut keterangan pihak rumah sakit, Jimi meninggal akibat pernafasannya tersumbat oleh muntahnya sendiri. Kendati demikian, banyak orang yang meragukan keterangan itu. Banyak anggapan bahwa ini meninggal akibat kelebihan dosin obat tidur. Apapun asumsi orang, yang jelas dunia telah kehilangan gitaris handal yang hingga kini raungan gitarnya masih lekat di telinga pecinta rock di seluruh dunia.
Dibalik Kehidupan DJ
Dibalik Kehidupan DJ
Dari Godaan Drugs & Free Sex Hingga Penghasilan Menggiurkan
Profesi DJ memang tak lepas dari kehidupan malam. Merupakan rahasia umum bahwa kehidupan malam identik dengan seks bebas dan obat terlarang. Fenomena ini merupakan warna tersendiri dalam roda kehidupan. Maklum, budaya barat begitu kental mempengaruhi kehidupan saat ini.
Walaupun DJ sebuah profesi yang semakin menjanjikan, banyak stigma yang kerap kali melekat di profesi seorang DJ. Lalu, tidak sedikit dari sebagian masyarakat yang mencibir kalau dunia tersebut dekat dengan narkoba dan pergaulan bebas. Itu tidak bisa dipungkiri ketika mewabahnya ecstasy. Obat terlarang jenis ini sering ditemui di klub-klub malam. Pasalnya, ecstasy dianggap jodohnya house music. Efek samping ecstasy yang mengakibatkan detak jantung berpacu cepat dianggap sesuai dengan ritme musik.
“Kalau itu tergantung dari individunya masing-masing. Memang benar sih dunia malam itu identik sama yang namanya drugs atau kadang free sex. Tapi nggak semua orang yang ada di dunia malam itu buruk. Jujur saja, gua lebih kreatif kalau malam. Suasananya beda kalau malam,” kata DJ Anton yang ditemui di Bar & Café miliknya bernama PARC.
Hal senada diungkapkan DJ David, pria brewok ini mengatakan, walau DJ tidak lepas dari dunia malam, tapi bukan berarti seorang DJ harus larut dalam obat terlarang maupun pergaulan bebas. David mengaku kerap kali menjauhi segala bentuk obat terlarang dan pergaulan bebas. “Terserah orang mau bilang apa, gua bukan orang yang munafik. Mungkin kalau minum (alkohol) itu iya, tapi bukan berarti gua minum untuk mabuk. Ya gua tahulah takarannya minum itu seperti apa,” ungkapnya. Menurut David, sebuah aksi tidak bisa ditampilkan secara maksimal bila dalam keadaan mabuk. “Mungkin kalau cuma segelas wine aja itu nggak apa-apa kan,” tandasnya sembari tertawa. Sedangkan menurut DJ Ijoel fenomena tersebut merupakan hal yang biasa terjadi di kehidupan malam. “Tapi itu nggak adil dong kalau semuanya yang terlibat di kehidupan malam adalah pengguna drugs atau penganut pergaulan bebas. Saya yakin masih banyak DJ atau orang yang berkecimpung di dunia malam masih memegang teguh norma yang berlaku,” kata wanita yang telah menunaikan ibadah hajinya itu.
Penghasilan DJ Menggiurkan
Menekuni sebuah profesi memanglah suatu pilihan untuk menjalani hidup. Bahkan, tak jarang sebuah profesi kadang menentukan status sosial dari masing-masing individu. Walau belum jelas ukurannya, stigma tertentu terhadap sebuah profesi kerap kali ditemui.
Salah satu profesi yang cukup menjanjikan adalah DJ (Disc Jockey). Mungkin gelar atau predikat DJ bisa diperoleh melalui pendidikan yang terkesan formal ataupun otodidak. Tapi, hal ini tentu berbeda dengan beberapa gelar seperti Sarjana, Master, atau bahkan Doktor sekalipun. Seseorang bisa meraih predikat DJ atas kepiawaiannya mixing berbagai macam karakter musik. Yang jelas, untuk menjadi seorang DJ biasanya diawali dari rasa cinta individu terhadap musik.
Kini banyak DJ yang terbilang sukses setelah menggeluti profesinya. Sebut saja DJ Anton yang memiliki sebuah Bar&Cafe bernama PARC. Selain itu, Anton juga menjadi direktur di sebuah perusahaan export & import. Kini Anton mulai merambah ke dunia bisnis Real estate.
Awalnya, Anton sering tampil di depan umum hanya berdasarkan hobi. Anton jarang menerima bayaran. Ia hanya berpikir bagaimana ia jarus berkreasi demi menyenangkan orang lain. Namun, lambat laun Anton mulai melirik DJ sebagai salah satu profesi yang menjanjikan. “Pertama kali gua pernah dibayar 100 US dollar. Jadi waktu itu setelah gua tampil di sebuah acara, pas pulangnya gua dikasih amplop. Gua nggak nyangka kalau bakal dibayar, dan uang itu adalah upah pertama yang gua dapat dari nge-DJ,” katanya. Kini semua jerih payah dan kecintaannya terhadap musik terbayar sudah. Namun, Anton menolak memberi tahu berapa besar tarif untuk aksinya dalam satu kali tampil saat ini. “Wah kalau itu nggak enak mas, tanya saja sama teman-teman gua,” katanya sembari tersenyum.
Sedangkan DJ David kini memiliki record shop yang bernama Demajors. Ia juga membuka kursus DJ dengan nama yang sama. Merasa belum puas, kini David menekuni profesi baru. David mulai menggeluti bisnis manajemen artis. Bahkan, ia berencana membuat sebuah record label bagi band dan artis. “Yang penting nggak lepas dari dunia entertainment,” kata David. Awalnya, sekitar tahun 1989 David hanya dibayar sekitar Rp.750 ribu per bulan. Namun, di tahun yang sama penghasilan David meroket hingga Rp.6 juta per bulan. Kini, David mengaku tidak mempunyai patokan harga tertentu untuk aksinya. “Soalnya sekarang gua sudah jarang nge-DJ, susah bagi waktunya. Tapi paling kalau ada event tertentu atau nge-bantu teman. Itu (tarif) pun tergantung nego,” ungkapnya.
Berbeda dengan DJ Ijoel yang kini memiliki sekolah DJ sendiri. Sekolah itu diberi nama Ijoel DJ School. Sekolah itu ia rintis atas kecintaannya dengan profesi DJ. Ijoel ingin membuktikan dirinya untuk eksis di bisnis hiburan. Akhirnya, ia mendirikan Ijoel Production sebagai tanda cintanya di dunia hiburan.
DJ mulai berkembang di Indonesia, khususnya Jakarta, sekitar pertengahan tahun 1990-an. Saat itu, orang mulai jenuh dengan sajian live music, atau lagu-lagu hits yang biasa disajikan di klub malam. Akhirnya sebuah terobosan mulai terlihat dengan dikenalnya house music. Klub-klub malam pun menyambut baik house music yang saat itu dianggap mewakili gemerlapnya klub. Saat itulah profesi DJ mulai dilirik dan mulai booming.
Pentingnya sense of Music
Gemerlap malam memang menyimpan kisah tersendiri. Apalagi kehidupan di kota besar yang tersebar di Indonesia. Pengaruh budaya barat begitu kental mewarnai dalam roda kehidupan. Alhasil, laju kehidupan di kota besar seakan tak pernah mati. Indikasi ini terlihat dari menjamurnya nite club dan café yang rata-rata beroperasi hingga dini hari.
Tempat hiburan malam memang tak lepas dari aksi para DJ (Disc Jockey) yang selalu memberikan atmosfir tersendiri. Dengan keahlian “menyulap” lagu di Turn Table, DJ kerap kali mampu membawa pengunjung untuk larut dalam alunan musik kreasinya. Warna dan karakter musik sang DJ memang variatif.
Keberadaan DJ dalam bisnis hiburan bisa dikatakan hal yang primer. Sama halnya dengan artis atau band, DJ memiliki penggemar tersendiri di dunia hiburan malam. Seorang DJ harus mampu memandu ratusan atau bahkan ribuan pengunjung. Bahkan, ini merupakan tantangan bagi seorang DJ. Belum lagi gemerlap laser yang dipadukan dengan dentuman house music seakan memacu adrenalin.
Menurut Anton, DJ mempunyai andil besar dalam menentukan suasana. DJ harus jeli membaca karakter pengunjung yang datang. DJ harus peka dan selalu berimprovisasi di tiap aksinya. “Itu karena kita nggak tahu lagu seperti apa yang harus kita mainkan. Yang jelas kalau penonton masih kelihatan kaku, ya kita harus cari lagu lain supaya suasananya lebih hangat lagi,” jelas Anton.
Biasanya, seorang DJ selalu mengawali dengan musik yang sedikit mellow. Namun, sekitar setengah jam berikutnya pemandangan pun berubah. Seluruh pengunjung terlihat begitu reaksionis. Mereka seakan mempunyai motor dalam tubuhnya. Sang DJ berusaha memompa motor itu untuk melaju kencang. Alhasil, tidak sedikit dari sebagian pengunjung yang memerlukan tenaga ekstra. Biasanya, obat terlarang dan psikotropika adalah pilihannya.
Memang tidak mudah untuk menyatukan isi kepala dari ribuan pengunjung. Pasalnya, tidak semua orang menyukai suatu jenis musik tertentu. Kendati demikian, inilah resiko sekaligus tantangan dari seorang DJ untuk tetap inovatif. “Yang jelas sukses atau nggaknya sebuah pertunjukan itu tergantung kita. Jadi pressure itu sebenarnya ada di diri kita sendiri. Terus bukan hanya pengunjung saja faktornya. Kita juga harus mikirin karir, penentuan karakter kita supaya lebih dikenal, dan harus terus up-date lagu. Pokoknya banyak hal harus dipikirin deh,” tambahnya.Setiap pekerjaan pasti punya tantangan, buat seorang DJ, tantangan yang utama adalah menggabungkan lagu dengan mulus. Menurut David, tugas DJ baru bisa dibilang sukses bila ia sanggup membuat suasana tetap hidup. “Disitulah kepuasannya, nggak ada yang bisa menggantikan kepuasan kalau gua bisa buat pengunjung on fire. Yang penting wawasan musik juga harus diasah terus,” kata David.(wan)
Dari Godaan Drugs & Free Sex Hingga Penghasilan Menggiurkan
Profesi DJ memang tak lepas dari kehidupan malam. Merupakan rahasia umum bahwa kehidupan malam identik dengan seks bebas dan obat terlarang. Fenomena ini merupakan warna tersendiri dalam roda kehidupan. Maklum, budaya barat begitu kental mempengaruhi kehidupan saat ini.
Walaupun DJ sebuah profesi yang semakin menjanjikan, banyak stigma yang kerap kali melekat di profesi seorang DJ. Lalu, tidak sedikit dari sebagian masyarakat yang mencibir kalau dunia tersebut dekat dengan narkoba dan pergaulan bebas. Itu tidak bisa dipungkiri ketika mewabahnya ecstasy. Obat terlarang jenis ini sering ditemui di klub-klub malam. Pasalnya, ecstasy dianggap jodohnya house music. Efek samping ecstasy yang mengakibatkan detak jantung berpacu cepat dianggap sesuai dengan ritme musik.
“Kalau itu tergantung dari individunya masing-masing. Memang benar sih dunia malam itu identik sama yang namanya drugs atau kadang free sex. Tapi nggak semua orang yang ada di dunia malam itu buruk. Jujur saja, gua lebih kreatif kalau malam. Suasananya beda kalau malam,” kata DJ Anton yang ditemui di Bar & Café miliknya bernama PARC.
Hal senada diungkapkan DJ David, pria brewok ini mengatakan, walau DJ tidak lepas dari dunia malam, tapi bukan berarti seorang DJ harus larut dalam obat terlarang maupun pergaulan bebas. David mengaku kerap kali menjauhi segala bentuk obat terlarang dan pergaulan bebas. “Terserah orang mau bilang apa, gua bukan orang yang munafik. Mungkin kalau minum (alkohol) itu iya, tapi bukan berarti gua minum untuk mabuk. Ya gua tahulah takarannya minum itu seperti apa,” ungkapnya. Menurut David, sebuah aksi tidak bisa ditampilkan secara maksimal bila dalam keadaan mabuk. “Mungkin kalau cuma segelas wine aja itu nggak apa-apa kan,” tandasnya sembari tertawa. Sedangkan menurut DJ Ijoel fenomena tersebut merupakan hal yang biasa terjadi di kehidupan malam. “Tapi itu nggak adil dong kalau semuanya yang terlibat di kehidupan malam adalah pengguna drugs atau penganut pergaulan bebas. Saya yakin masih banyak DJ atau orang yang berkecimpung di dunia malam masih memegang teguh norma yang berlaku,” kata wanita yang telah menunaikan ibadah hajinya itu.
Penghasilan DJ Menggiurkan
Menekuni sebuah profesi memanglah suatu pilihan untuk menjalani hidup. Bahkan, tak jarang sebuah profesi kadang menentukan status sosial dari masing-masing individu. Walau belum jelas ukurannya, stigma tertentu terhadap sebuah profesi kerap kali ditemui.
Salah satu profesi yang cukup menjanjikan adalah DJ (Disc Jockey). Mungkin gelar atau predikat DJ bisa diperoleh melalui pendidikan yang terkesan formal ataupun otodidak. Tapi, hal ini tentu berbeda dengan beberapa gelar seperti Sarjana, Master, atau bahkan Doktor sekalipun. Seseorang bisa meraih predikat DJ atas kepiawaiannya mixing berbagai macam karakter musik. Yang jelas, untuk menjadi seorang DJ biasanya diawali dari rasa cinta individu terhadap musik.
Kini banyak DJ yang terbilang sukses setelah menggeluti profesinya. Sebut saja DJ Anton yang memiliki sebuah Bar&Cafe bernama PARC. Selain itu, Anton juga menjadi direktur di sebuah perusahaan export & import. Kini Anton mulai merambah ke dunia bisnis Real estate.
Awalnya, Anton sering tampil di depan umum hanya berdasarkan hobi. Anton jarang menerima bayaran. Ia hanya berpikir bagaimana ia jarus berkreasi demi menyenangkan orang lain. Namun, lambat laun Anton mulai melirik DJ sebagai salah satu profesi yang menjanjikan. “Pertama kali gua pernah dibayar 100 US dollar. Jadi waktu itu setelah gua tampil di sebuah acara, pas pulangnya gua dikasih amplop. Gua nggak nyangka kalau bakal dibayar, dan uang itu adalah upah pertama yang gua dapat dari nge-DJ,” katanya. Kini semua jerih payah dan kecintaannya terhadap musik terbayar sudah. Namun, Anton menolak memberi tahu berapa besar tarif untuk aksinya dalam satu kali tampil saat ini. “Wah kalau itu nggak enak mas, tanya saja sama teman-teman gua,” katanya sembari tersenyum.
Sedangkan DJ David kini memiliki record shop yang bernama Demajors. Ia juga membuka kursus DJ dengan nama yang sama. Merasa belum puas, kini David menekuni profesi baru. David mulai menggeluti bisnis manajemen artis. Bahkan, ia berencana membuat sebuah record label bagi band dan artis. “Yang penting nggak lepas dari dunia entertainment,” kata David. Awalnya, sekitar tahun 1989 David hanya dibayar sekitar Rp.750 ribu per bulan. Namun, di tahun yang sama penghasilan David meroket hingga Rp.6 juta per bulan. Kini, David mengaku tidak mempunyai patokan harga tertentu untuk aksinya. “Soalnya sekarang gua sudah jarang nge-DJ, susah bagi waktunya. Tapi paling kalau ada event tertentu atau nge-bantu teman. Itu (tarif) pun tergantung nego,” ungkapnya.
Berbeda dengan DJ Ijoel yang kini memiliki sekolah DJ sendiri. Sekolah itu diberi nama Ijoel DJ School. Sekolah itu ia rintis atas kecintaannya dengan profesi DJ. Ijoel ingin membuktikan dirinya untuk eksis di bisnis hiburan. Akhirnya, ia mendirikan Ijoel Production sebagai tanda cintanya di dunia hiburan.
DJ mulai berkembang di Indonesia, khususnya Jakarta, sekitar pertengahan tahun 1990-an. Saat itu, orang mulai jenuh dengan sajian live music, atau lagu-lagu hits yang biasa disajikan di klub malam. Akhirnya sebuah terobosan mulai terlihat dengan dikenalnya house music. Klub-klub malam pun menyambut baik house music yang saat itu dianggap mewakili gemerlapnya klub. Saat itulah profesi DJ mulai dilirik dan mulai booming.
Pentingnya sense of Music
Gemerlap malam memang menyimpan kisah tersendiri. Apalagi kehidupan di kota besar yang tersebar di Indonesia. Pengaruh budaya barat begitu kental mewarnai dalam roda kehidupan. Alhasil, laju kehidupan di kota besar seakan tak pernah mati. Indikasi ini terlihat dari menjamurnya nite club dan café yang rata-rata beroperasi hingga dini hari.
Tempat hiburan malam memang tak lepas dari aksi para DJ (Disc Jockey) yang selalu memberikan atmosfir tersendiri. Dengan keahlian “menyulap” lagu di Turn Table, DJ kerap kali mampu membawa pengunjung untuk larut dalam alunan musik kreasinya. Warna dan karakter musik sang DJ memang variatif.
Keberadaan DJ dalam bisnis hiburan bisa dikatakan hal yang primer. Sama halnya dengan artis atau band, DJ memiliki penggemar tersendiri di dunia hiburan malam. Seorang DJ harus mampu memandu ratusan atau bahkan ribuan pengunjung. Bahkan, ini merupakan tantangan bagi seorang DJ. Belum lagi gemerlap laser yang dipadukan dengan dentuman house music seakan memacu adrenalin.
Menurut Anton, DJ mempunyai andil besar dalam menentukan suasana. DJ harus jeli membaca karakter pengunjung yang datang. DJ harus peka dan selalu berimprovisasi di tiap aksinya. “Itu karena kita nggak tahu lagu seperti apa yang harus kita mainkan. Yang jelas kalau penonton masih kelihatan kaku, ya kita harus cari lagu lain supaya suasananya lebih hangat lagi,” jelas Anton.
Biasanya, seorang DJ selalu mengawali dengan musik yang sedikit mellow. Namun, sekitar setengah jam berikutnya pemandangan pun berubah. Seluruh pengunjung terlihat begitu reaksionis. Mereka seakan mempunyai motor dalam tubuhnya. Sang DJ berusaha memompa motor itu untuk melaju kencang. Alhasil, tidak sedikit dari sebagian pengunjung yang memerlukan tenaga ekstra. Biasanya, obat terlarang dan psikotropika adalah pilihannya.
Memang tidak mudah untuk menyatukan isi kepala dari ribuan pengunjung. Pasalnya, tidak semua orang menyukai suatu jenis musik tertentu. Kendati demikian, inilah resiko sekaligus tantangan dari seorang DJ untuk tetap inovatif. “Yang jelas sukses atau nggaknya sebuah pertunjukan itu tergantung kita. Jadi pressure itu sebenarnya ada di diri kita sendiri. Terus bukan hanya pengunjung saja faktornya. Kita juga harus mikirin karir, penentuan karakter kita supaya lebih dikenal, dan harus terus up-date lagu. Pokoknya banyak hal harus dipikirin deh,” tambahnya.Setiap pekerjaan pasti punya tantangan, buat seorang DJ, tantangan yang utama adalah menggabungkan lagu dengan mulus. Menurut David, tugas DJ baru bisa dibilang sukses bila ia sanggup membuat suasana tetap hidup. “Disitulah kepuasannya, nggak ada yang bisa menggantikan kepuasan kalau gua bisa buat pengunjung on fire. Yang penting wawasan musik juga harus diasah terus,” kata David.(wan)
Subscribe to:
Posts (Atom)
